Tuesday, April 15, 2014

Kambing yang Memakan Rumput Tanah Kraton

Kalau bertanya soal sebesar apa bentuk rasa cinta masyarakat Jogja terhadap Sultannya, saya jadi ingat masa liburan saya selulus 3 SMA. Satu tas carrier, kaos polos, celana panjang, dan sendal jepit. Destinasi kami menuju Semarang-Surabaya-Jogja dimulai dari Stasiun Kereta Api Pasar Senen.


Semarang cukup menarik jika dilihat dari perjalanan yang bermula dari Kota Lama sampai pada daerah Simpang Lima -- Tugu Muda. Kita dapat menyaksikan suasana tempo doeloe sampai zaman modern.

Yang buat Surabaya menarik, buat saya, adalah Skate & BMX Park yang berada disamping kanal dekat Stasiun Gubeng atau Monumen Kapal Selam. Ini surganya Surabaya!

Destinasi Terakhir

Waktu kami tiba di Stasiun Tugu (Jogja), kami tumpangi becak yang sedang mangkal di depan lampu lalu lintas arah jalan menuju Sarkem (Pasar Kembang). Saya meminta Bapak tukang becaknya untuk mengantar kami ke tempat Mbah (almarhum) saya yang jarak tempuhnya -- kalau naik becak -- sekitar 15 - 20 menit, tergantung otot kaki.

Dalam perjalanan kami, disepanjang jalanan Malioboro saya banyak berbicang dengan Bapaknya tentang sejarah Jogja. Bapak itu bilang kalau dua gedung besar -- Cabang Bank BNI dan Kantor Pos -- di titik nol kilometer dibangun untuk menutup bangunan Kraton pada masa penjajahan. Saya nggak tau kebenarannya gimana, tapi mengingat kejamnya pasukan dan aparat Belanda saat itu, sangat masuk akal.

Saya sempat juga menanyakan Bapaknya tentang kebanggaannya memiliki seorang Raja: Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito. Ia terus terang kalau masyarakat Jogja cinta kepada penguasa kotanya. Katanya, sejak dikuasai oleh Hamengkubuwono IX, Jogja tentram dan nyaman.

Sampai sekarang ini, hitungannya hampir 4 tahun di Jogja, saya pernah beberapa kali bertanya lagi ke orang-orang lokal, dari tukang becak sampai mahasiswa asli Jogja. Nggak ada satu pun sifat buruk yang saya dengar dari mereka tentang Sang Pemilik Mahkota sekarang ini. Sebagai mahasiswa HI, tentu saja saya skeptis.

Saya tinggal di daerah Wijilan -- Sentra Gudeg Jogja -- 3 tahun belakangan ini. Setiap kali saya ke kampus, saya mesti melewati Alun-alun Utara, taman luas yang berada persis di depan Kraton. Baru-baru ini saya heran, Alun-alun Utara yang begitu dekat dengan rumah Raja atau simbol terbesar kota Jogja, kenapa nggak dipelihara? Kenapa tamannya gundul? Saya yakin Jogja adalah kota yang berkembang dari aspek pariwisata yang sangat atraktif. Hotel bertebaran dimana-mana adalah salah satu bukti nyatanya semakin banyak turis datang kemari. Dari aspek pariwisata saya melihat bahwa Sultan cerdas dalam memelihara itu, tapi balik lagi, kenapa satu-satunya halaman depan pagar Kraton nggak ditanam kembali rumput-rumputnya? Siang-siang yang ada malah debu-debu tanah yang dihembus oleh bis-bis pariwisata yang sedang mencari ruangan parkir. Ibaratnya kalau saya kerja di media massa, saya sudah mengeluarkan judul berita: Kemana Saja Sultan HB X sekarang ini?

Saya bukan bermaksud menyinggung citra baik kota Jogja, cuma harus skeptis aja dengan rasa cinta yang ada untuk Sultan. Seandainya rumput-rumput itu tumbuh kembali (mungkin juga boleh dipasang lampu-lampu berwarna kuning) Kraton akan tambah cantik. Saya menyinggung permasalahan ini karena saya telah menetap di wilayah Kraton selama hampir 4 tahun, dan tulisan ini adalah bentuk ekspresi dari pengamatan saya.

Semoga tulisan ini nggak cuma sekedar dipahami tapi juga dikembangkan dalam bentuk empati.


Tuesday, March 25, 2014

If Only I Had a Time Machine

(Foto: timemachine.wikia.com)
When I lived in Vienna back in 1999 until the fall season in 2006, I was still little and lack of interest in working for the UN. During weekdays, I would often just stop by Kaisermuhlen from VIS (Kagran) to have lunch with my mother at the VIC. We would talk a lot about how my school went, but hardly a time to talk about my possibilities working for the UN in the future.

It was very rare at the time to even imagine myself working at the UN in the future. It was not part of my plan, I wanted to be rockstar for a change! I was not aware at all in really seeing this moment as my opportunity to possibly be labelled as a professional by the UN.

But time passes, and people naturally become smarter. If I had to recall those days at the VIC, waiting for my mom at a lobby that was decorated by hundreth of flags and different people with neat outfits walking by, I could not easily stop imagining myself as one of those people at the lobby.

(australianmuseum.net.au)
As a boy who once dreamt to become a rockstar, slowly faded away as I lived in Indonesia. The music industry here did not satisfy me at all, it was literally always about love. Like, literally. Reflecting on this moment, I began to rethink that becoming a rockstar would not be the right decision. Hence, I chose a patch that could direct me straight to a social-political environment, which in several years later, put me in the Department of International Relations.


A diplomat, is who they want to become when they have graduated. For freshman students in my department, being part of the Foreign Ministry were their biggest dreams. But I had always thought that the UN was a way bigger dream. A waaay bigger dream.

Thursday, February 20, 2014

Valentine Volcano: Kelud Menelan Rp 400.000 Gue

Ini adalah kali kedua gue menjenguk ibu kota sebagai pelarian gue dari abu vulkanik di Jogja. Yang pertama adalah sewaktu Merapi meletus dan menghembuskan asap ke arah Kraton. Konon, asap -- atau wedhus gembel -- dan abu-abunya itu mengarah ke Kraton karena kerajaan sudah mulai meninggalkan budaya aslinya. Sederhananya, Merapi marah dan kemudian meletuskan dirinya buat, kalau kata beberapa orang di Jogja, mengingatkan Jogja (warning sign). Yang kedua, yang sekarang ini, adalah akibat letusan Gunung Kelud di Jawa Timur.

Dekat jembatan Sayidan. Foto pukul 22.00. (Foto: Edwin Mohammad)

Diberitakan beberapa kali kalau letusan Kelud bulan ini lebih dasyat dibandingkan Merapi empat tahun yang lalu, menyemprotkan hawa panas setinggi 3000 meter dan meniupkan debu-debu dengan radius hingga sepanjang 17 kilometer lebih. Media juga mengumumkan, katanya, bagian pinggir Bandung juga terserang dampak abu Kelud. Hari pertama letusan Kelud terjadi pada hari Jum'at, 14 Februari. Hari Valentine.

Valentine Volcano

Agak mirip sama Eropa yang kerap diromantiskan oleh salju pada hari Valentine, "salju" yang melanda Jogja bedanya bisa membuat sesak nafas dan melukai mata. Gue merasa cukup kecewa hari Valentine tahun ini harus diombak oleh keadaan seperti ini, karena semenjak beberapa hari kemarin, gue telah menyiapkan kado buat pacar gue.

Awalnya gue ragu, secara gue masih muda dan berita udah mengatakan kalau tiga orang tewas akibat debu racun itu. "Lo tetep kasih aja, toh juga ada helm sama masker, lo pake kacamata lagi", kata teman sekos gue yang akhirnya membuat gue berangkat dan ngasih kado Valentine ke pacar gue.

Hari Valentine tahun ini cukup menyenangkan, walaupun gue baru sempat ngasih kadonya jelang tengah malam dan nggak sempat buat makan malam bareng, sing penting kadone wis ku berii :)

Tenang, jerawatnya bisa cepat hilang kok :)

Ada satu hal lagi yang membuat kondisi ini mengecewakan buat gue pribadi. Berbeda dengan apa yang terjadi kala letusan Merapi empat tahun yang lalu, kali ini nasib gue kurang beruntung. Tiga hari sebelum letusan Kelud, nyokap gue udah booking satu tiket pesawat buat gue, from Adisutjipto to Soekarno-Hatta, hari Selasa depan.

Di hari pertama gue lihat debu bertebaran dimana-mana, termasuk mengubah sepatu hitam gue jadi putih, lantai hitam kos gue jadi abu-abu, dan motor metic putih gue jadi semakin putih, langsung terlintas dalam ingatan gue, kalau keadaannya masih kayak gini, kemungkinan besar pesawat gue ditunda. Berita pertama yang gue baca dari Viva news mengabarkan kalau bandara akan dibuka pada Selasa, 18 Februari, pukul 07.00. Buat mastiin apakah benar akan dibuka, gue bergegas ke bandara sehari sebelumnya. Petugas di counter mengatakan kalau berita itu bukan info terbarunya mereka. Yang terbaru adalah, bandara pada hari Selasa masih ditutup dan akan dibuka pada Rabu, 19 Februari.



Terpaksa gue harus reschedule ke hari itu, dengan jam keberangkatan yang sama, take-off pukul 12.10. Reschedule beres. Selasa sorenya, belum diumumkan berita baru lagi kalau Rabu bandara batal dibuka. Tapi, sekali lagi buat mastiin apakah berita itu tepat atau tidak, gue berangkat ke bandara buat mencari jawaban. Kata petugas, belum ada info terbaru mengenai pembatalan operasi bandara pada Rabu. Oke, fine, kalau gitu gue hanya perlu menunggu sampai Rabu.

Malamnya, sekitar jam delapan, nyokap gue nelfon dan bilang kalau Detikcom baru aja memberitakan kalau Rabu jam operasi bandara diundur sampai jam 12.00, sedangkan keberangkatan gue jam 12.10. Yang berarti jarak waktu diantara dua itu cuma 10 menit. Hm, tetep terbang nggak ya? Gue jadi ragu, sumpah, sampai akhirnya gue memutuskan buat memesan tiket kereta api buat jaga-jaga. Saat-saat ini gue mulai bertanya-tanya, apakah keadaannya yang masih terlalu ekstrim buat mengoperasikan seluruh maskapai atau petugas-pembersih di bandara yang terlalu lama kerjanya? Whatever. Gue udah cukup kesal dan akhirnya membeli satu tiket kereta Taksaka Malam buat hari Rabu, pukul 19.45.

Hari Rabunya, gue ke bandara lagi buat meminta jawaban, apakah tetap terbang atau tidak. Dan teman-teman, ternyata tetap terbang, dan gue harus memilih pesawat atau kereta. Nyokap yang karakternya mudah khawatir dimana kekhawatiran itu menular ke gue, gue memutuskan buat naik kereta daripada pesawat buat cari aman. Nyokap juga udah bilang semalamnya, kalau dia khawatir karena, kalaupun jadi terbang, berarti pesawat gue adalah yang pertama beroperasi setelah bandara dibuka. Menurutnya, itu sangat riskan. Guepun jadi terbayang-bayang, kalau misal ada apa-apa, gawat dong. Alhasil, pesawat gue cancel, tanpa adanya refund atau tersimpan dalam deposit. 100% hangus! Kelud mengganggu hari Valentine dan menelan Rp 400.000 gue.

Sunday, February 9, 2014

The World is Your Happy Place

This is the closest picture that I can find, that
can describe you.

Today, the world did not deliver happy stories.

I don't want to spend too much time saying my deep condelences to what happened to you this early morning. People come and go man, the only shit thing is we can only predict time.

Among my close friends, you are the happiest person I know. I don't know how you do it, but it's like... I never see you get mad at something or hate somebody. Though there were times you say shit things about people, beating them up, or make your friends look bad, but goddamnit, the world is like a happy place for you. I mean, to me, life sometimes treats me so bad that I wanna bang my face against the wall until my brain pops out. But to you? Man it's like... what's the point of all that? Til' finally you got me thinking, there is no point at all.

On contrary, if there were problems, you'd probably be drinking them away. Okay, perhaps that's the difference between you and me. I'd probably be thinking too much for a solution, and you'd most probably wouldn't give a horse crap and go crazy instead. And that my friend, probably is the solution that I've long couldn't accept.

That is why, I don't need to tell you to be strong because something happened today, where half of the world for sure would be sad if it happened to them. It's obvious that you'll be strong. You just gotta stay strong, brother. Again, people come and go, and I think it'd be unfair if we were mortal.

So what now, brother? We don't go through our moments separately. We walk along the path together.

Go wild,
Edwin

Sunday, January 12, 2014

2014 Gue Disambut Oleh Kehadiran Dewa Budjana di Jogja!

Lagi-lagi, Jogja yang dikenal sebagai kota berbudaya dan yang masih membekaskan cerita-cerita masa lalu kembali diistimewakan oleh sebuah pameran bernuansa seni dan musikal. Panitia dalam ajang ini mengundang salah satu gitaris handal asal Bali, Dewa Budjana, sebagai ikon dalam pameran yang bertemakan "Dawai-dawai Dewa Budjana" ini. Kalau kamu adalah salah satu diantara ratusan pengunjung pada acara malam ini, tepatnya pada tanggal 9 Januari 2014, keramaian itu ada karena karya-karya seni yang terpampang dalam pameran ini.

Semua orang dalam ruangan gedung Sangkring Art Space ini dikejutkan oleh seni-seni yang terlukis pada gitar-gitar Dewa Budjana. Dimulai dari lukisan gothic, pop, urban, dan lain-lainnya yang terlukis pada gitar akustik, elektrik, dan bass milik gitaris band Gigi ini.

Lewat tulisan ini, gue pengen sekaligus nunjukkin foto-foto yang gue tangkap pada acara itu. Buat kamu para musisi atau penggemar karya-karya Dewa Budjana, silahkan menikmati foto-foto berikut ini:







Selain dari pameran gitar-gitar Dewa Budjana, ditengah acara ini juga dipersembahkan aksi panggung dari Dewa Budjana dan band projectnya. 

Sebenarnya udah dari kemarin gue pengen share tulisan ini, karena kalau gue publish sepulangnya gue dari acara ini, sampai malam ini (terakhir) acara ini masih berlangsung, dan kalian masih berkesempatan buat melihat lukisan-lukisan gitar yang didedikasikan untuk Dewa Budjana :(

Thursday, December 19, 2013

Welcoming Indonesian Digitalpreneurs!

Dampak dari proses penyelesaian skripsi itu ada baik dan buruknya. Tapi nggak semua yang buruk itu, ya, buruk. Kadang hal yang sering dianggap buruk itu malah bisa jadi untung buat lo. Kayak cara berbisnis, kadang apa yang orang anggap rugi bisa ngasih untung yang besar. Tapi itu bukan maksud utama gue disini. Maksud gue adalah, mungkin lo pernah ngalamin ya, ketika ngerjain lagi giatnya ngerjain skripsi tiba-tiba diganggu sama Twitter, Facebook, ataupun Whatsapp dari teman lo. Nah, biasanya itu ganggu banget ya kan? Tapi entar dulu, kalau ternyata Twit itu dari seorang cewek yang lo suka, dan isinya itu ajakan buat makan malam (berdua), malam itu juga, emang lo ngerasa rugi? Siapa yang bakal nolaaak! Kecuali lo taken dan setia. Weiiits, bisa jadi itu pencitraan doang, cowok tuh emang ________!

Nah, kalau versi gue, beda sih sama yang gue contohin haha *kesannya gue nggak laku banget* Baru aja siang ini gue ngerjain skripsi dan diganggu oleh sebuah situs internet yang malah ujung-ujungnya membuat gue ansos main Android. Jadi, meskipun Indonesia sekarang ini dijajah oleh banyak perusahaan IT asal Silicon Valley, kita juga punya banyak produk-produk IT lokal yang mesti kita dukung. Apalagi buat pecinta teknologi, kita harus bisa mengapresiasikan karya-karya kreatif anak muda, para inovator bangsa ini. Ceilaaah!

Tapi beneran nih, gue serius. Sebagai bentuk apresiasi gue, gue mengangkat topik tentang pentingnya peran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dalam mengembangkan teknologi informasi dalam negeri. Termasuk juga, seberapa besar dukungannya terhadap perusahaan-perusahaan – dan produk-produknya – IT lokal. Kita semua tahu, kalau pemerintah itu sulit dipercaya, apalagi kalau udah nyinggung DPR. Meski realita begitu, tapi jangan langsung nge-judge tanpa nyari tau. Dibalik keburukan pemerintah, ada baiknya juga lho. Makanya jangan golput *lho?!*

Maksud gue begini, belakangan ini gue mencari informasi sebanyak-banyaknya buat skripsi gue, termasuk upaya Kemkominfo dalam memajukan IT lokal. Di dalam situs sebuah acara, yang diselenggarakan oleh kementerian ini (langsung aja deh sebutin: “Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA”) gue menemukan banyak karya IT dari para inovator muda yang keren-keren. Salah satunya bernama Isikota, dikit mirip sama Foursquare, cuma bedanya, aplikasi ini locally made coy! Harus bangga. Isikota memberikan kesan yang cukup mengagumkan, karena lewat aplikasi ini kita bisa cari tau tempat makan, nongkrong, SPBU, masjid, terminal bis, dan fasilitas umumnya yang ada disekitar kita (yang dilacak pake GPS). Kerennya lagi, Isikota juga ngumumin ketika tempat-tempat tersebut lagi ngasih diskon. Acara-acara yang diselenggarakan oleh tempat-tempat itu juga diumumin. Keren deh pokoknya! Langsung aja nih lo download, https://play.google.com/store/apps/details?id=com.isikota

Nggak perlu pusing lagi cari tempat makan, SPBU, masjid,
dan lain-lainnya selama ada Isikota. (Sumber: DailySocial.net)

Satunya lagi yang gue demen, namanya On Demand Job Exchange. Gaya banget ya pakai bahasa Inggris segala. Tapi sekarang coba lo singkat, jadinya O-JEX. Hahaha gokil! O-JEX dibuat untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Njir, mustahil banget! Pemerintah aja nggak bisa, masa nih orang bisa? Sabar dulu, menurut gue, idenya kreatif. Lo pada tau kan, maksud gue, yang tinggal di Jakarta lo pada tau kan, kalau kota ini berisik, padat, panas, berpolusi, dan berkorupsi  Solusinya adalah, supaya jalanan nggak padat, kasih tebengan! Dari situlah terlintas ide buat membangun aplikasi ini, aplikasi yang membantu mereka yang membutuhkan tebengan dan mereka yang berbaik hati memberikan tebengan. Sedaap!

Demi ngurangin kemacetan di Jakarta, O-JEX membantu kamu cari tebengan
daripada membawa kendaraan pribadi. (Sumber: Mohammad Edwin)

Keren kan? Masih penasaran sama aplikasi-aplikasi lokal lainnya? Langsung aja kunjungi www.inaicta.web.id. Acara ini diadain setiap tahun sejak 2007. Jadi, tahun ini kesempatan emas buat lo yang tertarik membangun produk IT sendiri. Punya startup sendiri penting lho jaman sekarang, dimana internet berhasil mengubah kehidupan dunia. Be the next Indonesian Digitalpreneurs!

Sunday, December 1, 2013

Separatozzz!

"Gue berasa kaya Toni Blank kalau lagi nulis lagu. Apa aja yang ada di pikiran gue, gue keluarin tanpa berpikir lebih jauh. Separatozzz!"

"Separatoz Toni Blank Show" (Sumber: lvrs.devianart.com)

Saturday, November 30, 2013

Terima Kasih Kandidat! Sukses untuk Arselma dan Ali

Candidates at the ICC Election watching Ali's presentation.

Memimpin International Class Community, atau yang akrab disebut ICC, merupakan sebuah pengalaman yang menginspirasi untuk kehidupan gue nantinya. Dan itu nggak cuma satu. Leadership contohnya, dengan diresmikan menjadi Presiden ICC tahun lalu membuat gue sadar kalau “gue harus ngelakuin sesuatu”. Meski dalam periode gue, gue nggak sanggup untuk menggelar acara yang banyak, proses dalam setiap persiapan acara itulah yang menurut gue penting.

Siang ini, baru aja kita – satu komunitas IC – kelar ngadain Pemilihan untuk Presiden ICC berikutnya. Gue bangga, cukup rame lah tadi, walaupun ada banyak yang nggak datang juga. Yasudahlah, kesempatan untuk memilih kan nggak cuma bisa dilihat dari satu sudut pandang doang. Hak untuk memilih bisa jadi bukanlah suatu kewajiban, dan sebaliknya. Tapi buat gue khususnya, kesempatan untuk memilih adalah kewajiban yang harus kita ikuti. Karena, sampai sekarang gue belum menemukan argumen yang bisa membela diri gue kalau golput itu lebih baik :)

Empat kandidat – yang duduk anteng di Study Hall tadi – menunjukkan pilihan yang cukup sulit buat dieksekusi. Mereka semua telah menghaturkan ratusan kata yang merepresentasikan 1) Visi dan Misi, 2) Motivasi, dan 3) Program Kerja mereka. Uh, terus terang, bagus-bagus ide mereka! Ada yang mau bikin Student Spotlight (atau magazines), ada yang mau bikin Science Olympiad, ada juga yang mau bikin Trip ke luar negeri, udah gitu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris para anggota ICC, ada yang berencana buat ngadain English Day. Hebat deh, kalian. Semua itu menunjukkan persiapan yang matang.

But yeah, sampai detik terakhir, ada yang harus menang, ada yang harus ditunda dulu kemenangannya (bukan berarti kalah) hehehe. It’s okay brother, menurut gue kemanangan itu bukan yang semestinya kita rayakan. You tried your best, that’s what you should celebrate :)

Novan, Edwin, Selma (President), Ali (Vice-president), 
Fachry, and Hielmy. Thank you candidates :)

Di bagian ini, gue ingin mengucapkan terima kasih banyak buat Direktur kita yang sudah meluangkan waktunya hadir di election ini. Juga buat Dr. Linda yang ramah hatinya, thank you for your speech and wanting to see the candidates’ presentations. It meant a lot to us. Terima kasih juga buat Chad dan Mas Ari yang cukup membuat gue terkejut hehe. Dan nggak lupa juga, terima kasih banyak buat Ketua KOMAHI kita, Awwab Hafidz AF, yang udah menyampaikan pendapatnya tentang KOMAHI dan ICC. Terima kasih semuanya.

Mudah-mudahan, penutupan acara tadi juga merupakan pembukaan sebuah chapter baru untuk ICC yang lebih maju. Sukses!

Friday, November 22, 2013

Bahagia Menjadi Miskin

Batu dari Gunung Merapi di Kaliputih sama Otong karo koncone :)

Setiap tahun buat kelas tiga, SMA gue selalu ngadain wisata ilmiah selama tiga hari dua malam yang namanya “Live In”. Setiap murid, berbarengan dengan beberapa guru terpilih, ditempatin di suatu pelosok daerah dan disuruh untuk mengabdi kepada masyarakat disana. Ketika gue masuk kelas tiga, kami semua berangkat ke sebuah desa (gue lupa namanya) di sekitar Purwokerto. Ini pengalaman kali pertama gue, tinggal di sebuah desa. Buat yang kedua kalinya, kebetulan juga belum lama ini, yaitu 17 hari yang lalu.

Posko KKN yang (katanya) tak berpenghuni selama 10 tahun. Hih!

Beda banget sama Live In! Di masa kuliah ini, gue baru aja selesai KKN. Selama satu bulan gue dibarengin sama mahasiswa-mahasiswa yang belum sempat gue kenal selama tiga tahun lebih kuliah di Jogja ini. *Kesannya gue introvert banget hahaha* Kami semua disarankan oleh kampus buat menginap di Dusun Polengan, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Endonesaaah! Serta diwajibkan menjalani program yang udah ditetapkan oleh kampus.

Program pokok yang udah dipastiin sama kampus itu bertemakan “Pemberdayaan Ketela”. Jadi, di Polengan ternyata ada suatu kelompok usaha yang bergerak di bidang olahan singkong yang didirikan oleh induk semang disana. Namanya ibu Tiwik. Usaha para ibu-ibu Polengan ini, bisa dibilang, penyumbang dana terbesar buat perkembangan desa ini.

Tempat produksi Sari Puspo (kelompok usaha olahan singkong).

Pada hari pertama, setelah berkenalan dengan aparat-aparat desa dan ngobrol sana-sini sama pemuda-pemuda disana, kami baru tau kalau dampak atau untung dari usaha singkong ini belum mencakup seluas satu Desa Polengan. Sampai detik itu kami akhirnya sadar kalau observasi yang dilakukan oleh kampus sebelum kami tiba di lokasi ini nggak maksimal. Maksud gue, kalau menurut kampus udah maksimal, mereka bakal tau kalau yang dibutuhin Desa Polengan itu bukan cuma hasil finansial dan pangan dari kelompok usaha singkong itu.

Mengecewakan. Kami terpaksa harus membangun program sendiri. Hampir masuk Minggu kedua kami masih saling berdiskusi buat menyiapkan dua program pokok. Berkat kekompakkan kami, kami semua sepakat buat mengembangkan desa ini melalui dua program, yaitu Desa Wisata dan Desa Ramah Anak. Desa Wisata contohnya seperti ngecat lambang dusun yang udah kelopak-kelopek warnanya, ngecat playground anak-anak TK, SD, dan SMP, dan membuat mini outbound. Selanjutnya, Desa Ramah Anak sifatnya penyuluhan. Kami berikan tiga tema, pertama itu berjudul “Pemilih Pemula”, kedua “Kekerasan dalam Rumah Tangga”, ketiga “Reproduksi”.

Salah satu program Desa Wisata: Ngecat lambang dusun Polengan!

Mini Outbound buat cah-cah ndusun Polengan.
(Btw, anak kecil yang pake kaos merah itu nakalnya minta ampun!)

Taman bermain di sebelah Masjid Al-Ikhlas.

Terlepas dari kekecewaan gue terhadap lembaga di kampus yang mengurus KKN, gue senang banget bisa dikasih kesempatan buat melaksanakan KKN di desa ini. Ironis ya, padahal awalnya gue ngerasa, “ah, satu bulan, lama banget”, ada juga teman gue yang bilang, “paling dua Minggu gue bisa bertahan di suasana kayak gini”.

Kalau KKN dalam bayangan lo itu malesin, karena nggak ada sinyal kencang, nggak ada mal, ndeso, udah gitu gelap lagi, jalan keluarnya cuma satu kalau menurut gue. Sedesa-desanya tempat itu, jelas kita bakal malas kalau kita nggak ada kemauan buat kenalan dan ngobrol-ngobrol sama masyarakat sekitar. Orang-orang desa itu beda sama orang kota, mereka saling menyapa dan menghargai satu dan lainnya. Legowo istilahnya.

Yang namanya uang, buat mereka, bukan segalanya. Kebahagiaan di desa ini, yang gue lihat, bukan karena uang semata. Di desa, mau nggak mau, kita harus menyesuaikan kehidupan kita dengan warga. Dan seringkali buat orang-orang kota, kehidupan di desa itu lebih "miskin", tapi perlu diketahui juga kalau makna kehidupan yang akan kita dapat dari desa itu.....tidak miskin. Kebahagiaan disini justru ada karena kesederhanaan, atau "kemiskinan".

Monday, November 18, 2013

Rayakan, Meski Hanyalah Kenangan

Ditengah kesibukan KKN, pasti akan selalu ada waktu - disaat matahari terbit -
untuk memblusuk ke sawah-sawah!

Ah, udah lama banget nggak posting di blog “bla bli blu”! Banyak hal seru yang terjadi di akhir tahun ini. Pertama-tama itu KKN, yang telah membuat gue tersadar lebih dalam terhadap makna suatu kehidupan yang sederhana. Pun setelah KKN itu gue sadar, kalau kebahagiaan atau keistimewaan itu nggak harus selalu datang dari kekayaan harta atau bentuk lainnya.

Keduanya, ditengah masa-masa skripsi dan menjadi ketua untuk komunitas program internasional Jurusan gue, gue masih sempat melonggarkan banyak waktu buat nongkrong bareng teman-teman dekat gue (termasuk yang satu ini yang ternyata menjadi “lebih” dekat, yang membuat hati gue berbunga-bunga hehehe).

Terkadang, melanggar aturan dengan tujuan yang baik
dan jelas, bukan suatu pelanggaran :)

Akhir tahun ini cukup menggembirakan. Senyum terasa lebih mudah buat gue ekspresikan ke orang lain.

Ketiga! Yang belum lama ini: 14 November. Tebak apa? Ini adalah hari yang baru aja menuakan gue, dan juga yang baru aja melengserkan gue dari bangku manis era keremajaan gue. Yap, betul, ulang tahun gue. Usia gue sekarang .................... ya masih termasuk dalam lingkaran generasi muda lah hehe.

Meskipun gue bukan orang yang menganggap kalau tanggal kelahiran itu penting, udah jadi etika dan tradisinya disini (juga di Negara-negara lainnya) kalau kita perlu membanggakan hari jadi kita di bumi ini. Nggak ada masalah lah menurut gue, gue pun bisa menerimanya dengan berani. Meskipun hari ulang tahun itu merupakan ingatan saat kita diperkenalkan pada kejahatan, kedamaian, pergaulan bebas, dan kesuksesan, baiknya adalah kita bisa mulai belajar dari semua itu. Kita dapat merasakan senang dan sedihnya ditengah kejadian-kejadian itu.

Tanggal 14 November malam itu, gue dikasih kejutan sama teman-teman dekat gue (bukannya pamer lho ya, hahaha). Sebelumnya, terima kasih banyak atas perayaan simple but meaningful ini. Kalian berhasil membuat gue mati gaya, salting, speechless *alaah*, dan yang ujungnya harus membuat gue menunjukkan tampang cute gue ke kalian semua. Terima kaseeeh! Hahaha. Terima kasih juga buat kue Tiramisunya, pemberian manis itulah yang membuat kue ini lezat disantap. Ngomong-ngomong, sempat abis nggak tuh kue? Dimakan Krisna semua ya? Ahaha!

Unyu banget sih ini hahaha. Terima kasih, sayang :) 

Gue nggak ngerti lagi... apa maksud gaya teman gue yang di tengah itu...

This has been a wonderful start to another new year! Satu hal lainnya yang mesti gue rayakan dalam tulisan ini adalah kemajuan dalam hidup gue. Gue ingin menghaturkan terima kasih, kepada siapapun itu yang telah mendorong gue sejauh ini. Especially, my family and close friends. Seringkali, belakangan ini, gue teringat akan masa lalu. Perubahan yang ada di diri gue dulu dan sekarang. Begitu cepatnya waktu berjalan, alhamdulillah gue masih bisa mencuri beberapa jam setiap harinya untuk memperbaiki diri gue.

Ketika SMA, gue terlalu akrab dengan dunia musik. Nulis lagu, ngejam, dan manggung. Gue lantas melupakan pentingnya sekolah. Tanpa disadari, nilai gue anjlok total hahaha. Tapi meskipun nilai gue hancur, gue nggak ikut-ikutan nyemplung dalam tradisi dan budaya jual-beli bocoran jawaban UAN. Itu yang harus gue banggakan. Kenapa? Karena gue sadar kalau gue harus bangkit segera mungkin buat membentuk sikap yang lebih maju buat masa perkuliahan nanti. Disini, menurut gue, gue cukup berhasil.

Kehidupan sebagai mahasiswa menciptakan suatu perbedaan yang signifikan dari masa SMA. Sampai sekarang ini, gue sukses meraih angka yang tinggi ditengah persaingan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Selebihnya, yang perlu banget gue rayakan, adalah karya sebuah media lepas yang gue bangun bareng teman-teman gue di Jogja. Okelah, banyak kegagalan yang telah kita lalui, serta lika-liku yang kerap membuat kita lelah, tapi ingat kawan, ini sungguh pengalaman dan pelajaran yang sangat istimewa. Suatu pengalaman yang luar biasa, yang terus mengasah otak kita, yang membuat kita paham akan arti perjuangan, kreativitas, dan solidaritas.

Berkat karya ini, gue lolos tes dan wawancara sebuah perusahaan asing yang presitigious, Wego Indonesia! Tanpa motivasi dan bantuan dari teman-teman buat mengembangkan media kita, gue rasa pencapaian ke Wego ini nggak akan datang menjumpai sejarah gue.

Tulisan ini akan selamanya menjadi kenangan. Meski hanyalah kenangan, ini patut gue rayakan. Karena dengan pasti, gue percaya, kalau perjalanan hidup gue masih jauh. Meskipun seterusnya akan seperti itu, 14 November 2013 dan ingatan akan masa lalu gue – jerih payah gue selama ini – adalah pengalaman dan pelajaran yang sangat luar biasa.

Monday, September 16, 2013

Ketika Hidup Ditemukan Dalam Sebuah Novel

Novel pertama dari ketiga novelnya Ahmad Fuadi membuat gue teringat pada masa-masa dilematis semester satu dan dua, ketika belum lama diresmikan menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Jogja.

Penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi, penyabet 8 beasiswa
ke luar negeri. (Foto: Tempo)

Pergaulan yang bertolak 180 derajat dari masa SMA saat itu membuat gue menganggap kuliah sebagai suatu paksaan. Beda banget lingkungannya, gue akui saat itu gue sama sekali belum terbiasa berbaur sama orang-orang yang berbeda budaya. Gue belum bisa berkomunikasi dengan orang yang berbeda logat tapi satu kebangsaan. Rasanya pengen banget gue melayang kembali ke masa-masa SMA.

Untungnya, gue jago memaksakan diri gue buat ngelakuin hal-hal yang nggak gue suka. Contohnya masuk kuliah meskipun gue nggak suka sama kampusnya. Mungkin ini ya perbedaan gue dengan orang lain. Pernah tiba waktunya dimana gue berpikir, mungkin kalau bukan gue yang terjerumus dalam lingkungan ini, mereka bakal bolos atau ujung-ujungnya pindah kampus. Ya maklum, gue pun sering dihantui pemikiran kayak gitu. Pindah, misalnya, sering kali muncul di otak gue ketika on the way berangkat dan pulang dari kampus.

Saat makan siang, gue juga sering mikir buat pindah, atau bolos. Cuma nggak pernah gue lakuin. Gue paksa terus sampai akhirnya, semester dua, gue nyerah sama situasi ini. Pun ketika ditanya teman gue, "kuliah dimana, Bing?", gue bingung harus jawab apa. Apa ini pertanda saatnya gue harus pindah?

Suatu siang, saat kelas pagi udah kelar, gue menelfon nyokap gue buat ngabarin kalau keputusan gue udah bulat. Pindah.

Anehnya, gue nggak lega sama keputusan ini. Gue justru bingung setelah gue tahu kalau kampus yang lagi gue incar nggak bisa menerima IPK dari kampus lain. Dalam artian, nggak ada aturan dimana kampus itu membolehkan transfer nilai antar kampus. Sejauh semester satu ini, nilai gue memuaskan, diatas rata-rata. Sayang kalau mesti mulai dari nol lagi.

Nyokap juga jelas-jelas nolak, dan nyaranin gue buat beli buku berjudul "Sang Pejuang, Sang Pecundang". Katanya, buku itu penuh ajaran-ajaran psikologis. Baiklah, siapa tau bisa menyembuhkan kegalauan gue. Gue kemudian bergegas ke Gramedia buat nyari buku itu. Sayangnya, nggak ada sama sekali. Yang menarik perhatian gue malah novel "Negeri 5 Menara", karya Ahmad Fuadi, yang gue lirik sedetik sebelum gue keluar. Seinget gue, ada temen gue yang pernah cerita penulis novel ini nyabet 8 beasiswa. Gilak, menarik juga, beli ah.

Sejak malam itulah gue baca novel karya sang perantau Minang yang telah berkeliling benua Amerika berkat penghargaan beasiswa ini. Novel ini mengisahkan realita kehidupan Ahmad Fuadi yang telah jenuh belajar di dalam sekolah berlandaskan ajaran Islam. Karena ibunya menolak permintaan dia buat menempuh pendidikan di sekolah negeri (yang bercampur agama), akhirnya dia lanjut sekolah di Pondok Pesantren Gontor -- Pondok Madani. Terpaksa namun berusaha melihat segi positifnya, di Gontor dia menemukan sebuah persahabatan yang terus memotivasinya untuk bertahan hingga lulus. Sahibul Menara, begitu ia menyebutnya. Disana pula dia diajarkan nilai-nilai Islam yang sampai sekarang terus diingat sebagai pondasi kehidupannya.

Inilah tiga ajaran Islam yang ia dapat dari Gontor:

1. Man jadda wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil (Negeri 5 Menara)
2. Man shabara zhafira: Siapa yang bersabar akan beruntung (Ranah 3 Warna)
3. Man saara ala darbi washala: Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan (Rantau 1 Muara).

Berkat Negeri 5 Menara, gue mulai berpikir bahwa pindah ke kampus lain bukanlah penyelesaian masalah, tetapi lari dari masalah. Ketika lingkungan menjadi masalah bagi kita, sesungguhnya bukan lingkungan tersebut yang menjadi masalah, akan tetapi diri kita sendiri apabila kita tidak mencoba mengubahnya menjadi lebih baik. Boleh dibilang kayak ustad, tapi kenyataannya, menurut gue, emang benar hehe. Contohnya, coba liat Soekarno, kalau aja dia ngundurin diri saat perang, Indonesia belum tentu merdeka. Kesimpulannya, jadilah tokoh yang dapat mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Wednesday, September 11, 2013

Copet Juga Pengen Punya Smartphone!

Sekarang ini, teknologi terus mengeluarkan versi terbarunya. Membuat segala sesuatu semakin mudah dan time-saving. Tapi rasa gengsipun semakin jadi. Maka banyak kalangan atas dan anak-anak muda elit jaman sekarang yang terus mengincar, misalnya, gadget terbaru. Perkembangan teknologi ini sayangnya nggak meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pekerjaan. Di Jakarta contohnya, hasilnya jadi nggak seimbang. Melainkan, menumpahkan jumlah copet yang lebih banyak.

Copet bisa aja berpenampilan lebih 'kaya' daripada lo, hihihi.
(Foto: Yupaz blogspot.)


Sewaktu liburan sebelum memasuki semester ke-7 ini, gue dengar cerita lucu dari abang gue, yang bikin gue terpikir ulang buat cari kerja di Jakarta.

Begini jalan ceritanya...

Suatu pagi di Sudirman, di hari pertama abang gue berangkat kerja, abang gue hampir dicopet di dalam bis kopaja menuju SCBD Karena cerita itu, gue berniat untuk berbagi tentang aturan-aturan yang sebaiknya diikuti oleh siapa aja saat menaiki kopaja atau bis antar kota lainnya.

Rule Number One: 

Jangan gampang percaya sama pakaian rapih, mahal, metroseksual, kantoran, atau semacamnya. Copet jaman sekarang udah cerdas. Kita banyak berprasangka orang yang berpenampilan rapih itu mapan, kecil banget kemungkinan sebagai copet. Nah, itulah salahnya. Justru itu yang para copet manfaatin. Berpakaian rapih selayaknya orang-orang mapan. Padahal, paling semuanya curian...

Rule Number Two: 

Sebisa mungkin jangan menyimpan barang-barang penting berupa telepon genggam pintar (smartphone), dompet, dan aksesoris lainnya, di dalam kantong. Sediakan tas, dan simpan disitu. Karena kantong sering banget jadi sasaran tangan para copet, khususnya di Jakarta.

Rule Number Three: 

Tunjukkin tampang sangar lo, haha! Kedengarannya emang aneh, tapi menurut gue, sekarang ini udah bukan jamannya pamer muka lucu, imut, polos, dan lainnya, ke orang-orang yang nggak dikenal. Ganteng, cantik, boleh laah, tapi bukan berarti lo harus siaga pasang tampang imut atau lucu biar dilirik. Jutek, sangar, gagah aja pokoknya. Safety’s first :)

Rule Number Four: 

Semasuknya lo ke dalam bis kota, jangan duduk di paling belakang. Biasanya, tempat duduk belakang adalah tempat “berkumpul”nya para copet biar gampang lompat keluar. Selain itu, belakang juga jarang dijadiin opsi pertama para penumpang.

Yang sempat dilihat abang gue waktu itu ada tiga copet. Satu berpakaian santai (kemeja kotak-kotak, jeans, dan sandal), satunya lagi seusia bapak-bapak dan mengenakan pakaian kantoran (kemeja polos, kantong kemeja diselipin pulpen, celana bahan, pantofel, dan membawa ransel), yang ketiga tampang dosen (kata abang gue sih gitu, gue bingung ngebayanginnya. Tampang intelek mungkin ya, hehe).

Kejadian dimulai saat abang gue duduk di paling belakang. Si kemeja santai ini duduk di sebelahnya. Selang beberapa detik muncul si orang kantoran. Berdiri disamping abang gue. Si ‘dosen’ berdiri di dekat supir, seakan-akan memantau keadaan di dalam dan luar bis. Satu per satu mulai melakukan rencananya, yaitu saat abang gue berdiri dan siap-siap keluar. Si kemeja santai mulai menarik-narik ujung bawah celana bahan abang gue. Abang gue otomatis nunduk, tanpa disadari memberikan posisi mudah bagi si orang kantoran buat masukin tangannya ke kantong abang gue. Celakanya, kurang beruntung dia! Ketika abang gue beralih ke pandangan si orang kantoran, tangannya masih nyangkut di kantong celana abang gue. Kalau kata abang gue, “mungkin karena ukuran kantong gue dan ukuran tangan dia nggak jodoh kali ya, jadi susah ngeluarinnya hahaha!”

Abang gue langsung teriak, persis di depan mata si orang kantoran, “woi! Ngapain lo!”. Sembari si orang kantoran memohon-mohon ampun, si kemeja santai tiba-tiba udah pindah duduk di bagian depan. Penumpang sekitar pada diam, inilah Jakarta. Gue-gue lo-lo. Ketika lo lagi susah, itu bukan urusan gue.

Selama pencopetan itu, si tampang dosen cuma memantau keadaan, seolah-olah nggak kenal sama kedua teman copetnya. Tapi karena mata dan gerak-geriknya, abang gue yakin mereka bertiga saling kenal. Mau dilapor ke polisi belum tentu mereka ditangkap, belum tentu polisi langsung datang. Pilihan abang waktu itu, keluar bis dan tetap berangkat ke kantor, daripada telat.

Begitulah cerita hari pertama abang gue kerja. Not a good impression, yea? Jadi hati-hati ya kalau pengen kerja ataupun sekedar jalan-jalan di Jakarta. Mending kamu mulai bangun usaha sendiri aja, selain meningkatkan ekonomi negeri, juga dapat mengurangi jumlah copet.

Monday, August 26, 2013

Desak-desakan di Kereta demi Magang di Wego Indonesia

Humming Bird Eatery, merayakan satu hari 
sebelum hari terakhir magang di Wego Indonesia

Once upon a time on an early Monday morning... 

Biasanya jam segini gue udah buru-buru cari pakaian yang pas, sarapan, nyiapin barang-barang yang perlu gue bawa, dan lari ke stasiun kereta api Serpong biar nggak ketinggalan kereta yang berangkat jam 08.17 menuju Tanah Abang. Sayangnya, nggak ada gunanya lagi gue terjun dalam rutinitas itu. Nggak perlu lagi gue desak-desakan dalam kereta bareng penduduk Jakarta yang juga ngejar jam kantor.

Ha?! Bukannya bagus? Not purely sih, kadang hal yang buruk itu bisa jadi suatu hal yang lo kangenin, hehe. Sejak Agustus lalu, gue magang di Wego Indonesia selama satu bulan, meskipun harus ikut-ikutan terperangkap dalam kehidupan mencari uang orang-orang di Jakarta, gue menikmati magang di sana. Wego telah memberi pelajaran yang selama ini gue nanti: menjadi penulis.

Meskipun di hari pertama udah berhasil ngecewain editor gue (uhuk-uhuk...Ka Clara...uhuk-uhuk) karena hasil liputan yang kurang lengkap sehingga harus balik ke tempat liputan sebanyak tiga kali, gue menikmati siksaan itu, hehe.

Meskipun diberi tugas menuliskan 20 artikel perjalanan yang ujung-ujungnya mencuri waktu tidur gue karena gue selalu kesulitan nulis di kantor, nikmat melaksanakan perintah itu.

Meskipun harus jalan kaki dari Reading Room, Kemang, ke Aksara bookstore--which, in fact, is something that no Indonesians would do! Hahaha--karena nggak dapat taksi, cuma buat meliput kegiatan Art & Craft di sana, gue menikmati ketololan itu. Semua, dari yang susah-payah sampai yang mudah, gue menikmati magang di Wego.

Satu bulan kerja di Wego bukan sebatas kerja. Bukan sebatas mengejar deadline dari waktu ke waktu. Bukan pula sebatas mempercantik CV gue. Dalam satu bulan ini, gue kenalan sama orang-orang menarik, yang juga ahli dalam dunia jurnalistik, internet programming, desain, keunganan, sosial media, dan lainnya. Orang-orang luar biasa yang berlagak biasa. Orang-orang hebat yang bersifat konyol. Orang-orang jutek yang, aslinya, penyayang.

At last, sobat interns gue, Ellen, Renata, dan Wahyu, ayoo buruan kelarin tugas terakhir lo! Sebelum dikejar tante-tante TED Wego (alias Sica, Clara, Sara), hehehe. Nggak kerasa ya, udah tamat aja nih program magang. Tetap stay in touch ya, jangan lupa buat re-unite (saran gue sambil liburan di Indonesia timur, dibayarin sama Ellen atau nggak Wahyu, pasti udah kerja dan sanggup neraktir kan tuh berdua, hehe). For the best and the worst, this one month internship has been one hell of a ride!

See ya in the other side! Best of luck, everybody. Peace.

Monday, August 5, 2013

Bayangin, Gue Bolak-balik 3x ke Monas!

Akhirnya, gue dapet kesempatan buat difoto di depan front office Wego!
Maklum, suka pamer, hehe.

Liburan tahun ini mengukir sejarah baru dalam hidup gue. Hari ini udah masuk Minggu ketiga gue magang di Travel Editor's Desk (Wego Indonesia). Ini merupakan kali pertama gue bergelut dalam media yang secara resmi di akui pemerintah. Terus terang beda banget sama media yang gue kelola: Ournalism.com.

Di TED Wego, gue menggali banyak informasi tentang pengembangan media. Di antaranya, cara menulis berita yang menarik, SEO (Search Engine Operation) sebuah sistem pencarian berita yang membuat berita itu gampang di cari lewat Google, dan langkah-langkah pra-publishing.

Karena TED Wego berbasis online, maka setiap orang di sana di tuntut untuk mengerti tentang internet programming.

Tugas pertama gue adalah memastikan sebuah topik berita yang ada kaitannya dengan Ramadan. Gue pilih Monas sebagai tempat liputan pertama gue. Kenapa jadi museum? Kebetulan bulan puasa ini, lagi heboh suasananya karena lagi ada bazaar murah dan permainan anak-anak. Orang-orang, termasuk para turis, banyak yang datang buat menikmati ajang tersebut dan beberapa lainnya ya itung-itung sekalian menunggu waktu buka puasa.

Dalam liputan ini, gue mengulas seluruh kegiatan yang bisa di lakukan di Monas selama Ramadan. Termasuk memandang kota Jakarta dari puncak monumen.

Jakarta (dalam teknik panorama) dari ketinggian 139m.

But it wasn't that simple! Cuma buat melengkapi berita ini, gue perlu bolak-balik tiga kali dari rumah gue di Tangsel sampai Monas. Bayangin Jakarta aja udah malas.

Senin
Kesalahan pertama, gue baru ingat kalau semua museum di Jakarta itu tutup hari Senin. Buat meliput bazaarnya juga nggak pas waktunya. Cuacanya barusan hujan dan setiap pedagang di sana baru siap-siap buka lapak. Otomatis nggak good-timing juga buat foto-foto.

Yaudah, mau gimana lagi? Gue langsung balik ke kantor dengan wajah kecewa. Jadi malu juga ya, hari pertama ini gue udah berhasil mengecewakan editor gue.

Selasa
Tiba di Monas pukul 17.00. Duh, apes lagi kan gue! Ternyata Monas tutup jam 3 sore. Baiklah, untung bazaarnya udah ramai.

Rabu
Hari ini lagi-lagi gue kurang beruntung. Tapi kali ini apesnya bukan tentang Monas. Beberapa menit sebelum sampai Monas, gue sempat di marahin sama tentara di Istana Negara karena jalan kaki di atas trotoar yang khusus di buat untuk Presiden dan anak-anak buahnya. First time in my life, gue di sodorin senjata pistol!

Pukul 13.30 gue udah sampai Monas. Yay! Akhirnya liputan berita gue selesai juga. Esok harinya gue berangkat ke kantor dan jadilah berita pertama gue untuk TED Wego: "Ngabuburit di Jantung Kota Jakarta"! Selamat membaca!

Sunday, July 21, 2013

Jejak Langkah Sate Padang Menjadi Tongseng

Populasi stasiun Mampang, ayo tebak gue di sebelah mana?

Hari Rabu kemarin, tepatnya di sore hari sehabis gue tidur siang, gue terima sebuah e-mail dari sica@wego.com yang menyatakan bahwa gue terpilih sebagai salah satu kandidat program magang Wego Indonesia (www.wego.co.id). Wego adalah perusahaan informasi teknologi yang bergerak didalam scope travelling, domestik dan manca negara.

Awalnya, gue pikir e-mail ini sama kaya email-email lainnya yang perlu gue unsubscribe atau yang pantas gue pindah ke spam folders. But no, e-mail ini bagaikan sedaun pohon pisang berbentuk piring Sate Padang; makanan buka puasa yang paling bisa bikin gue tersenyum ala the Jocker :)

Sica adalah salah satu editors Wego Indonesia yang membawa kebahagiaan disaat mata gue masih terlihat sipit.

Meskipun baru diloloskan sebagai kandidat dan belum secara resmi dinyatakan lolos sebagai intern, seenggaknya gue nggak perlu lagi mikirin, "hm, kirim CV kemana lagi ya buat magang liburan ini"... karena itulah kesibukan gue belakangan ini selain menyiapkan judul skripsi. Sekarang gue cukup mempersiapkan tahap kedua biar resmi jadi intern.

Sama Sica gue dikasih 2 pilihan hari wawancara; Kamis atau lusa. Seluruh sesi wawancara dilaksanakan mulai pukul 09:00 - 14.00.

Setelah bermondar-mandir ke kamar abang gue buat nanya-nanya hari apa sebaiknya gue diwawancara, gue langsung memilih hari Kamis jam 10.00 teng setelah abang gue bilang, "you snooze, you lose". Which, in some ways, I thought was very motivating.

Malamnya buat mastiin supaya wawancara besok lancar, gue mulai menelusuri beberapa contoh pertanyaan yang sekiranya bakal ditanyakan sama staff Wego Indonesia. Dari sekian banyaknya pertanyaan (yang ujungnya membuat gue tidur terlelap), gue highlight 5 pertanyaan yang menurut gue penting buat dipahami:
  1. Mengapa kamu memilih untuk magang disini? 
  2. Seandainya kamu diberikan tugas yang nggak kamu sukai, apa yang akan kamu lakukan? 
  3. Bagaimana kamu memandang diri kamu saat ini? Disiplin, perfeksionis, keras kepala, atau gimana? 
  4. Apakah kamu memiliki inisiatif? Ceritakan satu inisiatif yang telah kamu ambil. 
  5. Siapakah peran yang paling berpengaruh dalam kehidupanmu?
Sedikit banyak, itulah yang gue save dan namakan, "Contoh Pertanyaan Interview.doc" di otak gue sebelum tidur.

Paginya, beberapa jam sebelum waktunya gue harus berangkat, gue mencoba menjawab 5 pertanyaan itu (dikamar, terkunci, dan cermin) supaya gue yakin kalau gue akan bisa menjawab pertanyaan wawancara nanti.

Pukul 08.00, gue berangkat ke stasiun kereta api Serpong. Dan kemudian terperangkap dalam tradisi setiap orang yang berada didalam kereta pagi yaitu, berdiri selama perjalanan ke Tanah Abang karena penuh dengan populasi Jakarta yang udah kelewat batas wajar, turun dan ganti kereta menuju Sudirman, dan tiba di halte Depkes dari Dukuh Atas dengan tampang lesu.

Disinilah kantor Wego Indonesia, daerah Rasuna Said; daerah macet, daerah masyarakat terburu-buru, daerah "time is money", daerah rush-hour, daerah "survival of the fittest", daerah modern dan metropolitan.

Tepatnya didalam Menara Palma; gedung tinggi berkaca biru terang, yang terancang dengan sangat modern, gue masuk untuk pertama kalinya...

Menara Palma Pukul 09.30

Sejenak gue duduk di lobby lantai dasar sembari menikmati beberapa waktu sebelum sesi wawancara (dan juga sambil mengingat-ingat 5 pertanyaan yang gue pelajari tadi pagi -- kali ini tanpa cermin).

"Saya ada wawancara jam 10.00 di kantor Wego", begitu kata gue ke salah satu petugas disana yang memiliki kartu untuk masuk ke area lift. 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... 6 ... 7 ... 8 ... 9 ... 10: Lantai office Wego Indonesia.

Dua kata yang dapat menggambarkan office Wego Indonesia: Wow, sweeet! Asli, pewe banget. Gue langsung teringat sama office-office yang suka gue lihat sewaktu masih di Jogja (buat lo yang tertarik melihat foto-foto perusahaan raksasa diluar negeri yang nggak jauh bedanya sama playground anak-anak, you better visit www.officesnapshots.com).

"Mau ketemu sama siapa, mas?"
"Saya ada jadwal wawancara magang disini, pak" 
"Dengan siapa, mas?"
"Em, kalau bukan ka Carla, ka Sica, pak" 
"Ok tunggu disini bentar ya, duduk aja."

Sambil menunggu, gue mulai memandang desain interior seputar office ini yang dirancang se-lay-low mungkin, yang begitu menggiurkan, sambil memegang salah satu majalah yang tergeletak diatas meja lobby Wego. (Mangap mode: ON!)

Satu hal yang bikin gue surprised pagi itu, ternyata Wego Indonesia membangun kerjasama dengan Valadoo.com, juga sebuah situs travel di Indonesia. Lo harus lihat, websitenya top.

Anyways, kembali pada muka normal (which is, berhenti pasang muka nora, atau seenggaknya mingkem) gue lupa majalah apa yang gue baca, yang gue ingat adalah itu majalah dari Bali yang memamerkan hotel-hotel rekreasi disana. Oh dear, when will I be seeing Bali again? Serentak pikiran gue kembali melayang pada masa SMA dimana, bareng teman-teman, gue menginap di Hotel Risata Bali selama satu Minggu.

Bali itu nggak ada duanya di Indonesia. Kota paling seksi. Kenangan paling keren yang masih membentuk memori dibenak gue adalah ketika gue dikerjain sama teman gue sampai gue diajak tampil sama band di SC Bar (bar yang terletak didekat monumen bom Bali).

Gue adalah seorang pemalu, tapi entah kenapa gue merasa pede banget waktu memainkan Don't Look Back in Anger-nya Oasis! Gokilnya lagi, they gave me an applause, a big one! Hahaha how I missed the old days...

"Puasa nggak, mas?", wah kaget gue. Daydream gue dipotong sama FO Wego yang menawarkan gue segelas plastik Aqua.

"Puasa pak, makasih", dengan senyum (supaya nggak kelihatan bego kenapa tiba-tiba nih orang kaget).

Nggak lama kemudian, Sica memanggil gue buat melaksanakan sesi wawancara. *This is when you do the drum roll*

Pertanyaan-pertanyaannya sangat sederhana, tapi menarik, dan gue rasa emang udah dapat menilai karakter seseorang dengan pertanyaan sesimpel itu.

Mau sesimpel apapun, gue akan selalu berkeringat; deskripsi gue yang paling dewasa kalau ada teman lo yang nanya kaya gimana gue orangnya. Kayanya untuk beberapa kali gue berhasil membuat Sica bingung kenapa diruang ber-AC ini muka gue banjir.

Ada pertanyaan yang dengan lancar bisa gue jawab, ada pula yang harus gue "em... em..."-kan. Dari semuanya, fair & square lah menurut gue hehe.

Disaat wawancara, Sica sempat menanyakan media gue, Ournalism, dan menayangkan situsnya di layar flat-screen office Wego. "Wah Ournalism ditayangkan di office Wego!", dalam hati gue (jujur lho nih). Seselesai wawancara, gue dikabarin Sica kalau mereka akan mengumumkan hasilnya besok at latest.

Di lobby tempat daydreaming gue, gue melihat tiga anak muda yang siap untuk diwawancara setelah gue. Nggak ada satupun yang gue kenal. Semoga kalau diterima, mereka asik, amin, hehe.

Gue pun kembali ke halte TransJakarta setelah semuanya beres. Namun salah naik busway karena lagi asik mendengar lagu Carry On-nya Fun.

Untung aja gue turun di halte pertama (kalau nggak, gue bakal nyasar sampai ke Monas).

Di Sudirman, gue cukup menunggu lama sampai keretanya datang. Selama perjalanan, yang ada dipikiran gue cuma satu, "diterima nggak ya, diterima nggak ya".... Mau dengar lagu metal, pop, K-pop, house, atau apa kek, pikiran gue akan selalu melontarkan pertanyaan itu berulang kali.

Yasudahlah. Lupakan saja. Toh kalau nggak diterima, gue ada waktu yang lebih longgar buat menyelesaikan skripsi...

Disaat gue ngantuk dalam perjalanan dari Tanah Abang ke Serpong, gue tiba-tiba bangun karena kaget melihat ibu-ibu yang mengotong bayinya didepan gue tiba-tiba melepas kancing bajunya dan menyusui anaknya. Maksud gue, itunya jelas banget! Oh man, speaking of social etiquette, is this even appropriate?

Biar nggak terlihat seperti seorang pervert, gue merem dan pura-pura tidur, biar ibunya nggak terganggu juga (mengingat gue juga nggak pengen dilihat kalau gue jadi dia hehe).

Dari Sate Padang Menjadi Tongseng

Tiba dirumah. Jarum jam udah menyentuh angka 11. Aah, akhirnya sampai juga. Habis beres-beres, melototin makanan dan minuman didapur, buka-buka internet, main tab, gue kemudian terlentang diatas karpet bagaikan ikan hiu yang terdampar dari lautan Samudera Hindia.

Bangun-bangun udah Jum'at siang! (Aslinya, ada beberapa kejadian di Kamis malam dan Jum'at pagi, tapi karena gue capek ngetik, langsung gue lompatin kesini aja ya). Sore ini, Sate Padang yang kemarin dikirim Sica secara online telah berubah menjadi Tongseng, makin mak nyus!

Tongseng ini juga dikirim sama Sica. Isinya adalah, diantara 300 pelamar, gue telah lolos menjadi intern Wego Indonesia tahun ini! Woohoo!!!

Semua akan dimulai pada Senin depan. Tunggu cerita petualangan jurnalistik gue ya!

Salam :)

Wednesday, July 17, 2013

15 Maret 2013


Ada apa dengan 15 Maret 2013? Let's cut to the chase, I really missed MSN Online Messenger! Sangat disayangkan, cuma sedikit yang menggunakan sosmed ini sekarang.

Setelah bertahun-tahun berkomunikasi sama teman-teman gue lewat Twitter, Skype, Facebook, dan sebagainya, gue pernah iseng membuka akun chat MSN gue. Diantara ratusan teman gue yang dulunya online dari waktu ke waktu, sekarang none. Mereka semua beralih ke sosmed yang udah gue sebutin sebelumnya.

Gue paham kalau semuanya, nggak cuma dalam kisah percintaan, tapi teknologi juga, harus move on dan live on. Tapi tetap aja, kadang kala gue kangen masa-masa muda gue dulu. SMA: Pulang sekolah, nongkrong bentar, kemudian OL (sebutan "online" mereka dulu).

Terkadang gue sedih kalau harus menerima fakta dimana kita semua secara nggak langsung dipaksa untuk menggunakan sosmed yang lebih up-to-date.

Hampir setiap pulang sekolah gue selalu OL. Kalaupun ada PR atau janji-janji yang harus gue tepatin setelah gue sampai dirumah, gue selalu menyempatkan OL. Buat lo yang lagi bernostalgia seperti ini, pasti pernah mendengar teman-teman lo bilang:

"Eh, entar malam lo OL nggak?", atau
"...gue jelasin pas lo OL aja deh."

Dan kerap istilah OL itu mengartikan "online via MSN". Bukan Twitter, dan juga bukan Facebook (dua sosmed yang masih membumi hingga saat ini).

MSN sangat bersejarah dalam hidup gue. Nggak penting banget, emang. Tapi kalau udah yang namanya sejarah, it should never be forgotten.

MSN adalah sosmed pertama yang gue aplikasikan dalam lingkup dunia sosial, berbarengan dengan Myspace, sewaktu masih di Vienna. To talk about homeworks, we do it on MSN. To plan a vacation, MSN. Playing Tic-Tac-Toe, MSN! Sepertinya jaman itu adalah saat @hotmail, @live, dan @rocketmail laris banget di kalangan muda.

Gue yakin, anak-anak muda yang udah bertahun-tahun menggunakan hotmail, live, atau rocketmail untuk mengakses e-mail mereka, pasti pernah chatting via MSN. Suksesnya perusahaan chatting ini, orang-orang sampai membuat akun hotmail dan sebagainya hanya untuk chatting via MSN.

MSN itu mirip banget sama Yahoo Messenger (YM), hanya saja YM bertahan lebih lama. MSN Online Messenger resmi ditutup oleh perusahaan Microsoft pada 15 Maret 2013 karena kalah bersaing dengan sosmed lainnya. Sedih.

Oh Timberland, After All These Years


Malam ini gue ngetweet "It's disastrous! Thank god everything has been well swept. I am not happy for tonight's rain". Mungkin yang cuma baca dan nggak tau situasi gue saat ini bakal bingung. Maksudnya apa?

Jadi begini, malam ini hujan deras banget. Untungnya, atap rumah gue fine-fine aja, nggak bocor atau apa. Cuma, beberapa hari yang lalu, orang tua gue manggil tukang untuk memperbaiki saluran air dari keran yang ada didalam dan diluar rumah. Ternyata, nggak semua orang itu melakukan kerjaannya sampai tuntas. Maksud gue, kalau kerjaan mereka tuntas, nggak mungkin gue menulis celotehan ini.

Dari jam 19.00 sampai 21.00, kami, satu keluarga, membersihkan rumah akibat saluran air yang mampet dan air hujan yang tersebar kemana-mana. Malam ini, rumah gue banjir!

Nyokap udah mulai panik, dan dirumah cuma ada gue dan abang gue. Bokap dan abang gue yang satu lagi belum pulang. Untungnya, nggak lama kemudian, bokap pulang dan bareng-bareng kami mengusir semua air hujan yang masuk ke dalam rumah.

It wasn't hard for us, walaupun biasanya kami semua bakal panik, tapi nggak buat kali ini Nggak tau ada angin apa, tapi semuanya santai dan menikmati keadaan basah ini. Bulan puasa dan rumah banjir, how anymore worse could this be? Only god knows, so just let it be.

Tanpa berpikir dua kali kami semua bergegas menghilangkan air hujan. Ada yang masuk ke kamar abang gue, kamar gue, ke gudang dibelakang, dan sebagian lainnya masuk ke ruang tamu (celakanya membasahi stopkontak yang ada diruang tamu). Celakanya lagi, listrik tiba-tiba mati. Nyokap kemudian nanya ke abang gue, "dek, kamu matiin listriknya ya?", ternyata mati karena air hujannya udah berhasil merampas tenaga listrik dirumah.

Gue dapat bagian gudang yang ada dibelakang. Udah hampir dua jam, dan sampai detik ini nggak ada yang panik (ya paling cuma sekali-dua kali gue sedikit panik karena bokap masukin tangannya ke lobang air yang kotor dan memegang barang-barang dirumah tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu).

Entah kenapa, semuanya kami nikmati. Pas gue bersih-bersih gudang dibelakang, gue nemu artefak! Model sepatu boot (sepatu Timberland yang sering gue pakai sewaktu masih di Vienna) yang gue buat dari clay atau tanah liat. Wow, this is my history. Waktu kemudian berputar... Ingatan kembali pada waktu dimana gue masih kelas 5 SD di Vienna International School. Guru kelas Seni Rupa gue menyuruh kami semua untuk membuat sebuah profil dalam bentuk clay. Begitulah tugas kami, dan gue buat sepatu ini karena gue cinta sama musim salju (dan juga karena gue selalu memakai boots ini saat musim salju).

Pesan gue dalam cerita ini adalah, disaat keadaan itu buruk atau cenderung membuat orang-orang panik, don't be, just be cool. Nikmatin aja, karena semua bakal beres dengan lebih cepat kalau kita nikmatin, dalam hal apapun itu. Hasilnya, we could stumble upon many things unexpected. Dan itu sangat menarik.

Tuesday, July 16, 2013

Tantangan Berat: Sebuah Lagu Cinta


Satu Minggu sebelum libur panjang akhir semester ini, kami, satu Jurusan HI yang memilih Mandarin dan diajarkan oleh Laoshi Vera, harus menampilkan sebuah lagu secara individual dan dinyanyikan dalam bahasa Mandarin untuk mendapatkan nilai ujian akhir semester (UAS).

Ujian ini menurut gue cukup menantang. Untuk meraih A, kami harus mengucapkan setiap hanzi (huruf Mandarin) dengan intonasi yang benar. Buat lo yang belum tau, setiap kata dalam bahasa Mandari memilki intonasi naik, turun, datar, dan turun-naik *sorry kalau ini sedikit membingungkan, gue nggak tau istilah-istilahnya soalnya*.

Sebelum menyanyikan lagu yang kami pilih, masing-masing harus menceritakan makna lagu tersebut. Gue memilih lagu lawas yang sering diputar ketika Hari Raya Imlek (khususnya di daerah pecinan Kota Lama, Semarang), "Lao Shu Ai Da Mi" (Tikus Mencintai Beras).

Intinya, lagu ini tentang cinta. Tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada seorang lelaki. Awalnya, gue penasaran kenapa judulnya "Tikus Mencintai Beras", maksud gue, kayanya udah merupakan sebuah pengetahuan umum kalau tikus cintanya sama keju, bukan beras. Sampai sekarang sejujurnya gue masih penasaran. Anyways, ini liriknya:

Lao Shu Ai Da Mi 

Wo ting jian ni de sheng yin
(Jikalau aku mendengar suaramu)
You zhong te bie de gan jue
(Aku merasakan sebuah keistimewaan)
Rang wo, bu duan xiang, bu gan zai wang ji ni 
(Bila ku pikir, ku tak ingin melupakanmu)
Wo ji de you yi ge ren 
(Setiap hari ku ingat)
Yong yuan liu zai wo xin zhong
(Kau selalu ada dipikiranku)
Na pa zhi neng gou zhe yang de xiang ni
(Meskipun aku tahu semestinya tidak harus seperti ini)

Ru guo zhen de you yi tian
(Di waktu yang akan datang nanti)
Ai qing li xiang hui shi xian 
(Cinta ini akan menjadi nyata)
Wo hui jia bei nu li hao hao dui ni yong yuan bu gai bian
(Ku tak akan berubah, ku akan mencintaimu selamanya)
Bu guan lu you duo me yuan
(Aku tak peduli betapa bodohnya ini)
Yi ding hui rang ta shi xian 
(Aku ingin mimpi ini menjadi nyata)
Wo hui qin qin zai ni er bian dui ni shuo (dui ni shuo)
(Aku ingin mengatakan sesuatu, dan aku ingin kau tahu, (aku ingin kau tau).....

Wo ai ni ai zhe ni
(Aku mencintaimu)
Jiu xiang lao shu ai da mi
(Seperti tikus mencintai beras)
Bu guan you duo shao feng yu wo dou hui yiran pei zhe ni
(Walau badai akan menyerang kita, aku akan selalu disampingmu) 
Wo xiang ni xiang zhe ni
(Aku kangen kamu)
Bu guan you duo me de ku
(Aku tak peduli betapa susahnya ini)
Zhi yao neng rang ni kai xin wo shenme dou yuan yi... zhe yang ai ni (
Aku hanya ingin kau bahagia, semuanya aku lakukan untukmu)