Monday, September 16, 2013

Ketika Hidup Ditemukan Dalam Sebuah Novel

Novel pertama dari ketiga novelnya Ahmad Fuadi membuat gue teringat pada masa-masa dilematis semester satu dan dua, ketika belum lama diresmikan menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Jogja.

Penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi, penyabet 8 beasiswa
ke luar negeri. (Foto: Tempo)

Pergaulan yang bertolak 180 derajat dari masa SMA saat itu membuat gue menganggap kuliah sebagai suatu paksaan. Beda banget lingkungannya, gue akui saat itu gue sama sekali belum terbiasa berbaur sama orang-orang yang berbeda budaya. Gue belum bisa berkomunikasi dengan orang yang berbeda logat tapi satu kebangsaan. Rasanya pengen banget gue melayang kembali ke masa-masa SMA.

Untungnya, gue jago memaksakan diri gue buat ngelakuin hal-hal yang nggak gue suka. Contohnya masuk kuliah meskipun gue nggak suka sama kampusnya. Mungkin ini ya perbedaan gue dengan orang lain. Pernah tiba waktunya dimana gue berpikir, mungkin kalau bukan gue yang terjerumus dalam lingkungan ini, mereka bakal bolos atau ujung-ujungnya pindah kampus. Ya maklum, gue pun sering dihantui pemikiran kayak gitu. Pindah, misalnya, sering kali muncul di otak gue ketika on the way berangkat dan pulang dari kampus.

Saat makan siang, gue juga sering mikir buat pindah, atau bolos. Cuma nggak pernah gue lakuin. Gue paksa terus sampai akhirnya, semester dua, gue nyerah sama situasi ini. Pun ketika ditanya teman gue, "kuliah dimana, Bing?", gue bingung harus jawab apa. Apa ini pertanda saatnya gue harus pindah?

Suatu siang, saat kelas pagi udah kelar, gue menelfon nyokap gue buat ngabarin kalau keputusan gue udah bulat. Pindah.

Anehnya, gue nggak lega sama keputusan ini. Gue justru bingung setelah gue tahu kalau kampus yang lagi gue incar nggak bisa menerima IPK dari kampus lain. Dalam artian, nggak ada aturan dimana kampus itu membolehkan transfer nilai antar kampus. Sejauh semester satu ini, nilai gue memuaskan, diatas rata-rata. Sayang kalau mesti mulai dari nol lagi.

Nyokap juga jelas-jelas nolak, dan nyaranin gue buat beli buku berjudul "Sang Pejuang, Sang Pecundang". Katanya, buku itu penuh ajaran-ajaran psikologis. Baiklah, siapa tau bisa menyembuhkan kegalauan gue. Gue kemudian bergegas ke Gramedia buat nyari buku itu. Sayangnya, nggak ada sama sekali. Yang menarik perhatian gue malah novel "Negeri 5 Menara", karya Ahmad Fuadi, yang gue lirik sedetik sebelum gue keluar. Seinget gue, ada temen gue yang pernah cerita penulis novel ini nyabet 8 beasiswa. Gilak, menarik juga, beli ah.

Sejak malam itulah gue baca novel karya sang perantau Minang yang telah berkeliling benua Amerika berkat penghargaan beasiswa ini. Novel ini mengisahkan realita kehidupan Ahmad Fuadi yang telah jenuh belajar di dalam sekolah berlandaskan ajaran Islam. Karena ibunya menolak permintaan dia buat menempuh pendidikan di sekolah negeri (yang bercampur agama), akhirnya dia lanjut sekolah di Pondok Pesantren Gontor -- Pondok Madani. Terpaksa namun berusaha melihat segi positifnya, di Gontor dia menemukan sebuah persahabatan yang terus memotivasinya untuk bertahan hingga lulus. Sahibul Menara, begitu ia menyebutnya. Disana pula dia diajarkan nilai-nilai Islam yang sampai sekarang terus diingat sebagai pondasi kehidupannya.

Inilah tiga ajaran Islam yang ia dapat dari Gontor:

1. Man jadda wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil (Negeri 5 Menara)
2. Man shabara zhafira: Siapa yang bersabar akan beruntung (Ranah 3 Warna)
3. Man saara ala darbi washala: Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan (Rantau 1 Muara).

Berkat Negeri 5 Menara, gue mulai berpikir bahwa pindah ke kampus lain bukanlah penyelesaian masalah, tetapi lari dari masalah. Ketika lingkungan menjadi masalah bagi kita, sesungguhnya bukan lingkungan tersebut yang menjadi masalah, akan tetapi diri kita sendiri apabila kita tidak mencoba mengubahnya menjadi lebih baik. Boleh dibilang kayak ustad, tapi kenyataannya, menurut gue, emang benar hehe. Contohnya, coba liat Soekarno, kalau aja dia ngundurin diri saat perang, Indonesia belum tentu merdeka. Kesimpulannya, jadilah tokoh yang dapat mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Wednesday, September 11, 2013

Copet Juga Pengen Punya Smartphone!

Sekarang ini, teknologi terus mengeluarkan versi terbarunya. Membuat segala sesuatu semakin mudah dan time-saving. Tapi rasa gengsipun semakin jadi. Maka banyak kalangan atas dan anak-anak muda elit jaman sekarang yang terus mengincar, misalnya, gadget terbaru. Perkembangan teknologi ini sayangnya nggak meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pekerjaan. Di Jakarta contohnya, hasilnya jadi nggak seimbang. Melainkan, menumpahkan jumlah copet yang lebih banyak.

Copet bisa aja berpenampilan lebih 'kaya' daripada lo, hihihi.
(Foto: Yupaz blogspot.)


Sewaktu liburan sebelum memasuki semester ke-7 ini, gue dengar cerita lucu dari abang gue, yang bikin gue terpikir ulang buat cari kerja di Jakarta.

Begini jalan ceritanya...

Suatu pagi di Sudirman, di hari pertama abang gue berangkat kerja, abang gue hampir dicopet di dalam bis kopaja menuju SCBD Karena cerita itu, gue berniat untuk berbagi tentang aturan-aturan yang sebaiknya diikuti oleh siapa aja saat menaiki kopaja atau bis antar kota lainnya.

Rule Number One: 

Jangan gampang percaya sama pakaian rapih, mahal, metroseksual, kantoran, atau semacamnya. Copet jaman sekarang udah cerdas. Kita banyak berprasangka orang yang berpenampilan rapih itu mapan, kecil banget kemungkinan sebagai copet. Nah, itulah salahnya. Justru itu yang para copet manfaatin. Berpakaian rapih selayaknya orang-orang mapan. Padahal, paling semuanya curian...

Rule Number Two: 

Sebisa mungkin jangan menyimpan barang-barang penting berupa telepon genggam pintar (smartphone), dompet, dan aksesoris lainnya, di dalam kantong. Sediakan tas, dan simpan disitu. Karena kantong sering banget jadi sasaran tangan para copet, khususnya di Jakarta.

Rule Number Three: 

Tunjukkin tampang sangar lo, haha! Kedengarannya emang aneh, tapi menurut gue, sekarang ini udah bukan jamannya pamer muka lucu, imut, polos, dan lainnya, ke orang-orang yang nggak dikenal. Ganteng, cantik, boleh laah, tapi bukan berarti lo harus siaga pasang tampang imut atau lucu biar dilirik. Jutek, sangar, gagah aja pokoknya. Safety’s first :)

Rule Number Four: 

Semasuknya lo ke dalam bis kota, jangan duduk di paling belakang. Biasanya, tempat duduk belakang adalah tempat “berkumpul”nya para copet biar gampang lompat keluar. Selain itu, belakang juga jarang dijadiin opsi pertama para penumpang.

Yang sempat dilihat abang gue waktu itu ada tiga copet. Satu berpakaian santai (kemeja kotak-kotak, jeans, dan sandal), satunya lagi seusia bapak-bapak dan mengenakan pakaian kantoran (kemeja polos, kantong kemeja diselipin pulpen, celana bahan, pantofel, dan membawa ransel), yang ketiga tampang dosen (kata abang gue sih gitu, gue bingung ngebayanginnya. Tampang intelek mungkin ya, hehe).

Kejadian dimulai saat abang gue duduk di paling belakang. Si kemeja santai ini duduk di sebelahnya. Selang beberapa detik muncul si orang kantoran. Berdiri disamping abang gue. Si ‘dosen’ berdiri di dekat supir, seakan-akan memantau keadaan di dalam dan luar bis. Satu per satu mulai melakukan rencananya, yaitu saat abang gue berdiri dan siap-siap keluar. Si kemeja santai mulai menarik-narik ujung bawah celana bahan abang gue. Abang gue otomatis nunduk, tanpa disadari memberikan posisi mudah bagi si orang kantoran buat masukin tangannya ke kantong abang gue. Celakanya, kurang beruntung dia! Ketika abang gue beralih ke pandangan si orang kantoran, tangannya masih nyangkut di kantong celana abang gue. Kalau kata abang gue, “mungkin karena ukuran kantong gue dan ukuran tangan dia nggak jodoh kali ya, jadi susah ngeluarinnya hahaha!”

Abang gue langsung teriak, persis di depan mata si orang kantoran, “woi! Ngapain lo!”. Sembari si orang kantoran memohon-mohon ampun, si kemeja santai tiba-tiba udah pindah duduk di bagian depan. Penumpang sekitar pada diam, inilah Jakarta. Gue-gue lo-lo. Ketika lo lagi susah, itu bukan urusan gue.

Selama pencopetan itu, si tampang dosen cuma memantau keadaan, seolah-olah nggak kenal sama kedua teman copetnya. Tapi karena mata dan gerak-geriknya, abang gue yakin mereka bertiga saling kenal. Mau dilapor ke polisi belum tentu mereka ditangkap, belum tentu polisi langsung datang. Pilihan abang waktu itu, keluar bis dan tetap berangkat ke kantor, daripada telat.

Begitulah cerita hari pertama abang gue kerja. Not a good impression, yea? Jadi hati-hati ya kalau pengen kerja ataupun sekedar jalan-jalan di Jakarta. Mending kamu mulai bangun usaha sendiri aja, selain meningkatkan ekonomi negeri, juga dapat mengurangi jumlah copet.

Monday, August 26, 2013

Desak-desakan di Kereta demi Magang di Wego Indonesia

Humming Bird Eatery, merayakan satu hari 
sebelum hari terakhir magang di Wego Indonesia

Once upon a time on an early Monday morning... 

Biasanya jam segini gue udah buru-buru cari pakaian yang pas, sarapan, nyiapin barang-barang yang perlu gue bawa, dan lari ke stasiun kereta api Serpong biar nggak ketinggalan kereta yang berangkat jam 08.17 menuju Tanah Abang. Sayangnya, nggak ada gunanya lagi gue terjun dalam rutinitas itu. Nggak perlu lagi gue desak-desakan dalam kereta bareng penduduk Jakarta yang juga ngejar jam kantor.

Ha?! Bukannya bagus? Not purely sih, kadang hal yang buruk itu bisa jadi suatu hal yang lo kangenin, hehe. Sejak Agustus lalu, gue magang di Wego Indonesia selama satu bulan, meskipun harus ikut-ikutan terperangkap dalam kehidupan mencari uang orang-orang di Jakarta, gue menikmati magang di sana. Wego telah memberi pelajaran yang selama ini gue nanti: menjadi penulis.

Meskipun di hari pertama udah berhasil ngecewain editor gue (uhuk-uhuk...Ka Clara...uhuk-uhuk) karena hasil liputan yang kurang lengkap sehingga harus balik ke tempat liputan sebanyak tiga kali, gue menikmati siksaan itu, hehe.

Meskipun diberi tugas menuliskan 20 artikel perjalanan yang ujung-ujungnya mencuri waktu tidur gue karena gue selalu kesulitan nulis di kantor, nikmat melaksanakan perintah itu.

Meskipun harus jalan kaki dari Reading Room, Kemang, ke Aksara bookstore--which, in fact, is something that no Indonesians would do! Hahaha--karena nggak dapat taksi, cuma buat meliput kegiatan Art & Craft di sana, gue menikmati ketololan itu. Semua, dari yang susah-payah sampai yang mudah, gue menikmati magang di Wego.

Satu bulan kerja di Wego bukan sebatas kerja. Bukan sebatas mengejar deadline dari waktu ke waktu. Bukan pula sebatas mempercantik CV gue. Dalam satu bulan ini, gue kenalan sama orang-orang menarik, yang juga ahli dalam dunia jurnalistik, internet programming, desain, keunganan, sosial media, dan lainnya. Orang-orang luar biasa yang berlagak biasa. Orang-orang hebat yang bersifat konyol. Orang-orang jutek yang, aslinya, penyayang.

At last, sobat interns gue, Ellen, Renata, dan Wahyu, ayoo buruan kelarin tugas terakhir lo! Sebelum dikejar tante-tante TED Wego (alias Sica, Clara, Sara), hehehe. Nggak kerasa ya, udah tamat aja nih program magang. Tetap stay in touch ya, jangan lupa buat re-unite (saran gue sambil liburan di Indonesia timur, dibayarin sama Ellen atau nggak Wahyu, pasti udah kerja dan sanggup neraktir kan tuh berdua, hehe). For the best and the worst, this one month internship has been one hell of a ride!

See ya in the other side! Best of luck, everybody. Peace.

Monday, August 5, 2013

Bayangin, Gue Bolak-balik 3x ke Monas!

Akhirnya, gue dapet kesempatan buat difoto di depan front office Wego!
Maklum, suka pamer, hehe.

Liburan tahun ini mengukir sejarah baru dalam hidup gue. Hari ini udah masuk Minggu ketiga gue magang di Travel Editor's Desk (Wego Indonesia). Ini merupakan kali pertama gue bergelut dalam media yang secara resmi di akui pemerintah. Terus terang beda banget sama media yang gue kelola: Ournalism.com.

Di TED Wego, gue menggali banyak informasi tentang pengembangan media. Di antaranya, cara menulis berita yang menarik, SEO (Search Engine Operation) sebuah sistem pencarian berita yang membuat berita itu gampang di cari lewat Google, dan langkah-langkah pra-publishing.

Karena TED Wego berbasis online, maka setiap orang di sana di tuntut untuk mengerti tentang internet programming.

Tugas pertama gue adalah memastikan sebuah topik berita yang ada kaitannya dengan Ramadan. Gue pilih Monas sebagai tempat liputan pertama gue. Kenapa jadi museum? Kebetulan bulan puasa ini, lagi heboh suasananya karena lagi ada bazaar murah dan permainan anak-anak. Orang-orang, termasuk para turis, banyak yang datang buat menikmati ajang tersebut dan beberapa lainnya ya itung-itung sekalian menunggu waktu buka puasa.

Dalam liputan ini, gue mengulas seluruh kegiatan yang bisa di lakukan di Monas selama Ramadan. Termasuk memandang kota Jakarta dari puncak monumen.

Jakarta (dalam teknik panorama) dari ketinggian 139m.

But it wasn't that simple! Cuma buat melengkapi berita ini, gue perlu bolak-balik tiga kali dari rumah gue di Tangsel sampai Monas. Bayangin Jakarta aja udah malas.

Senin
Kesalahan pertama, gue baru ingat kalau semua museum di Jakarta itu tutup hari Senin. Buat meliput bazaarnya juga nggak pas waktunya. Cuacanya barusan hujan dan setiap pedagang di sana baru siap-siap buka lapak. Otomatis nggak good-timing juga buat foto-foto.

Yaudah, mau gimana lagi? Gue langsung balik ke kantor dengan wajah kecewa. Jadi malu juga ya, hari pertama ini gue udah berhasil mengecewakan editor gue.

Selasa
Tiba di Monas pukul 17.00. Duh, apes lagi kan gue! Ternyata Monas tutup jam 3 sore. Baiklah, untung bazaarnya udah ramai.

Rabu
Hari ini lagi-lagi gue kurang beruntung. Tapi kali ini apesnya bukan tentang Monas. Beberapa menit sebelum sampai Monas, gue sempat di marahin sama tentara di Istana Negara karena jalan kaki di atas trotoar yang khusus di buat untuk Presiden dan anak-anak buahnya. First time in my life, gue di sodorin senjata pistol!

Pukul 13.30 gue udah sampai Monas. Yay! Akhirnya liputan berita gue selesai juga. Esok harinya gue berangkat ke kantor dan jadilah berita pertama gue untuk TED Wego: "Ngabuburit di Jantung Kota Jakarta"! Selamat membaca!

Sunday, July 21, 2013

Jejak Langkah Sate Padang Menjadi Tongseng

Populasi stasiun Mampang, ayo tebak gue di sebelah mana?

Hari Rabu kemarin, tepatnya di sore hari sehabis gue tidur siang, gue terima sebuah e-mail dari sica@wego.com yang menyatakan bahwa gue terpilih sebagai salah satu kandidat program magang Wego Indonesia (www.wego.co.id). Wego adalah perusahaan informasi teknologi yang bergerak didalam scope travelling, domestik dan manca negara.

Awalnya, gue pikir e-mail ini sama kaya email-email lainnya yang perlu gue unsubscribe atau yang pantas gue pindah ke spam folders. But no, e-mail ini bagaikan sedaun pohon pisang berbentuk piring Sate Padang; makanan buka puasa yang paling bisa bikin gue tersenyum ala the Jocker :)

Sica adalah salah satu editors Wego Indonesia yang membawa kebahagiaan disaat mata gue masih terlihat sipit.

Meskipun baru diloloskan sebagai kandidat dan belum secara resmi dinyatakan lolos sebagai intern, seenggaknya gue nggak perlu lagi mikirin, "hm, kirim CV kemana lagi ya buat magang liburan ini"... karena itulah kesibukan gue belakangan ini selain menyiapkan judul skripsi. Sekarang gue cukup mempersiapkan tahap kedua biar resmi jadi intern.

Sama Sica gue dikasih 2 pilihan hari wawancara; Kamis atau lusa. Seluruh sesi wawancara dilaksanakan mulai pukul 09:00 - 14.00.

Setelah bermondar-mandir ke kamar abang gue buat nanya-nanya hari apa sebaiknya gue diwawancara, gue langsung memilih hari Kamis jam 10.00 teng setelah abang gue bilang, "you snooze, you lose". Which, in some ways, I thought was very motivating.

Malamnya buat mastiin supaya wawancara besok lancar, gue mulai menelusuri beberapa contoh pertanyaan yang sekiranya bakal ditanyakan sama staff Wego Indonesia. Dari sekian banyaknya pertanyaan (yang ujungnya membuat gue tidur terlelap), gue highlight 5 pertanyaan yang menurut gue penting buat dipahami:
  1. Mengapa kamu memilih untuk magang disini? 
  2. Seandainya kamu diberikan tugas yang nggak kamu sukai, apa yang akan kamu lakukan? 
  3. Bagaimana kamu memandang diri kamu saat ini? Disiplin, perfeksionis, keras kepala, atau gimana? 
  4. Apakah kamu memiliki inisiatif? Ceritakan satu inisiatif yang telah kamu ambil. 
  5. Siapakah peran yang paling berpengaruh dalam kehidupanmu?
Sedikit banyak, itulah yang gue save dan namakan, "Contoh Pertanyaan Interview.doc" di otak gue sebelum tidur.

Paginya, beberapa jam sebelum waktunya gue harus berangkat, gue mencoba menjawab 5 pertanyaan itu (dikamar, terkunci, dan cermin) supaya gue yakin kalau gue akan bisa menjawab pertanyaan wawancara nanti.

Pukul 08.00, gue berangkat ke stasiun kereta api Serpong. Dan kemudian terperangkap dalam tradisi setiap orang yang berada didalam kereta pagi yaitu, berdiri selama perjalanan ke Tanah Abang karena penuh dengan populasi Jakarta yang udah kelewat batas wajar, turun dan ganti kereta menuju Sudirman, dan tiba di halte Depkes dari Dukuh Atas dengan tampang lesu.

Disinilah kantor Wego Indonesia, daerah Rasuna Said; daerah macet, daerah masyarakat terburu-buru, daerah "time is money", daerah rush-hour, daerah "survival of the fittest", daerah modern dan metropolitan.

Tepatnya didalam Menara Palma; gedung tinggi berkaca biru terang, yang terancang dengan sangat modern, gue masuk untuk pertama kalinya...

Menara Palma Pukul 09.30

Sejenak gue duduk di lobby lantai dasar sembari menikmati beberapa waktu sebelum sesi wawancara (dan juga sambil mengingat-ingat 5 pertanyaan yang gue pelajari tadi pagi -- kali ini tanpa cermin).

"Saya ada wawancara jam 10.00 di kantor Wego", begitu kata gue ke salah satu petugas disana yang memiliki kartu untuk masuk ke area lift. 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... 6 ... 7 ... 8 ... 9 ... 10: Lantai office Wego Indonesia.

Dua kata yang dapat menggambarkan office Wego Indonesia: Wow, sweeet! Asli, pewe banget. Gue langsung teringat sama office-office yang suka gue lihat sewaktu masih di Jogja (buat lo yang tertarik melihat foto-foto perusahaan raksasa diluar negeri yang nggak jauh bedanya sama playground anak-anak, you better visit www.officesnapshots.com).

"Mau ketemu sama siapa, mas?"
"Saya ada jadwal wawancara magang disini, pak" 
"Dengan siapa, mas?"
"Em, kalau bukan ka Carla, ka Sica, pak" 
"Ok tunggu disini bentar ya, duduk aja."

Sambil menunggu, gue mulai memandang desain interior seputar office ini yang dirancang se-lay-low mungkin, yang begitu menggiurkan, sambil memegang salah satu majalah yang tergeletak diatas meja lobby Wego. (Mangap mode: ON!)

Satu hal yang bikin gue surprised pagi itu, ternyata Wego Indonesia membangun kerjasama dengan Valadoo.com, juga sebuah situs travel di Indonesia. Lo harus lihat, websitenya top.

Anyways, kembali pada muka normal (which is, berhenti pasang muka nora, atau seenggaknya mingkem) gue lupa majalah apa yang gue baca, yang gue ingat adalah itu majalah dari Bali yang memamerkan hotel-hotel rekreasi disana. Oh dear, when will I be seeing Bali again? Serentak pikiran gue kembali melayang pada masa SMA dimana, bareng teman-teman, gue menginap di Hotel Risata Bali selama satu Minggu.

Bali itu nggak ada duanya di Indonesia. Kota paling seksi. Kenangan paling keren yang masih membentuk memori dibenak gue adalah ketika gue dikerjain sama teman gue sampai gue diajak tampil sama band di SC Bar (bar yang terletak didekat monumen bom Bali).

Gue adalah seorang pemalu, tapi entah kenapa gue merasa pede banget waktu memainkan Don't Look Back in Anger-nya Oasis! Gokilnya lagi, they gave me an applause, a big one! Hahaha how I missed the old days...

"Puasa nggak, mas?", wah kaget gue. Daydream gue dipotong sama FO Wego yang menawarkan gue segelas plastik Aqua.

"Puasa pak, makasih", dengan senyum (supaya nggak kelihatan bego kenapa tiba-tiba nih orang kaget).

Nggak lama kemudian, Sica memanggil gue buat melaksanakan sesi wawancara. *This is when you do the drum roll*

Pertanyaan-pertanyaannya sangat sederhana, tapi menarik, dan gue rasa emang udah dapat menilai karakter seseorang dengan pertanyaan sesimpel itu.

Mau sesimpel apapun, gue akan selalu berkeringat; deskripsi gue yang paling dewasa kalau ada teman lo yang nanya kaya gimana gue orangnya. Kayanya untuk beberapa kali gue berhasil membuat Sica bingung kenapa diruang ber-AC ini muka gue banjir.

Ada pertanyaan yang dengan lancar bisa gue jawab, ada pula yang harus gue "em... em..."-kan. Dari semuanya, fair & square lah menurut gue hehe.

Disaat wawancara, Sica sempat menanyakan media gue, Ournalism, dan menayangkan situsnya di layar flat-screen office Wego. "Wah Ournalism ditayangkan di office Wego!", dalam hati gue (jujur lho nih). Seselesai wawancara, gue dikabarin Sica kalau mereka akan mengumumkan hasilnya besok at latest.

Di lobby tempat daydreaming gue, gue melihat tiga anak muda yang siap untuk diwawancara setelah gue. Nggak ada satupun yang gue kenal. Semoga kalau diterima, mereka asik, amin, hehe.

Gue pun kembali ke halte TransJakarta setelah semuanya beres. Namun salah naik busway karena lagi asik mendengar lagu Carry On-nya Fun.

Untung aja gue turun di halte pertama (kalau nggak, gue bakal nyasar sampai ke Monas).

Di Sudirman, gue cukup menunggu lama sampai keretanya datang. Selama perjalanan, yang ada dipikiran gue cuma satu, "diterima nggak ya, diterima nggak ya".... Mau dengar lagu metal, pop, K-pop, house, atau apa kek, pikiran gue akan selalu melontarkan pertanyaan itu berulang kali.

Yasudahlah. Lupakan saja. Toh kalau nggak diterima, gue ada waktu yang lebih longgar buat menyelesaikan skripsi...

Disaat gue ngantuk dalam perjalanan dari Tanah Abang ke Serpong, gue tiba-tiba bangun karena kaget melihat ibu-ibu yang mengotong bayinya didepan gue tiba-tiba melepas kancing bajunya dan menyusui anaknya. Maksud gue, itunya jelas banget! Oh man, speaking of social etiquette, is this even appropriate?

Biar nggak terlihat seperti seorang pervert, gue merem dan pura-pura tidur, biar ibunya nggak terganggu juga (mengingat gue juga nggak pengen dilihat kalau gue jadi dia hehe).

Dari Sate Padang Menjadi Tongseng

Tiba dirumah. Jarum jam udah menyentuh angka 11. Aah, akhirnya sampai juga. Habis beres-beres, melototin makanan dan minuman didapur, buka-buka internet, main tab, gue kemudian terlentang diatas karpet bagaikan ikan hiu yang terdampar dari lautan Samudera Hindia.

Bangun-bangun udah Jum'at siang! (Aslinya, ada beberapa kejadian di Kamis malam dan Jum'at pagi, tapi karena gue capek ngetik, langsung gue lompatin kesini aja ya). Sore ini, Sate Padang yang kemarin dikirim Sica secara online telah berubah menjadi Tongseng, makin mak nyus!

Tongseng ini juga dikirim sama Sica. Isinya adalah, diantara 300 pelamar, gue telah lolos menjadi intern Wego Indonesia tahun ini! Woohoo!!!

Semua akan dimulai pada Senin depan. Tunggu cerita petualangan jurnalistik gue ya!

Salam :)

Wednesday, July 17, 2013

15 Maret 2013


Ada apa dengan 15 Maret 2013? Let's cut to the chase, I really missed MSN Online Messenger! Sangat disayangkan, cuma sedikit yang menggunakan sosmed ini sekarang.

Setelah bertahun-tahun berkomunikasi sama teman-teman gue lewat Twitter, Skype, Facebook, dan sebagainya, gue pernah iseng membuka akun chat MSN gue. Diantara ratusan teman gue yang dulunya online dari waktu ke waktu, sekarang none. Mereka semua beralih ke sosmed yang udah gue sebutin sebelumnya.

Gue paham kalau semuanya, nggak cuma dalam kisah percintaan, tapi teknologi juga, harus move on dan live on. Tapi tetap aja, kadang kala gue kangen masa-masa muda gue dulu. SMA: Pulang sekolah, nongkrong bentar, kemudian OL (sebutan "online" mereka dulu).

Terkadang gue sedih kalau harus menerima fakta dimana kita semua secara nggak langsung dipaksa untuk menggunakan sosmed yang lebih up-to-date.

Hampir setiap pulang sekolah gue selalu OL. Kalaupun ada PR atau janji-janji yang harus gue tepatin setelah gue sampai dirumah, gue selalu menyempatkan OL. Buat lo yang lagi bernostalgia seperti ini, pasti pernah mendengar teman-teman lo bilang:

"Eh, entar malam lo OL nggak?", atau
"...gue jelasin pas lo OL aja deh."

Dan kerap istilah OL itu mengartikan "online via MSN". Bukan Twitter, dan juga bukan Facebook (dua sosmed yang masih membumi hingga saat ini).

MSN sangat bersejarah dalam hidup gue. Nggak penting banget, emang. Tapi kalau udah yang namanya sejarah, it should never be forgotten.

MSN adalah sosmed pertama yang gue aplikasikan dalam lingkup dunia sosial, berbarengan dengan Myspace, sewaktu masih di Vienna. To talk about homeworks, we do it on MSN. To plan a vacation, MSN. Playing Tic-Tac-Toe, MSN! Sepertinya jaman itu adalah saat @hotmail, @live, dan @rocketmail laris banget di kalangan muda.

Gue yakin, anak-anak muda yang udah bertahun-tahun menggunakan hotmail, live, atau rocketmail untuk mengakses e-mail mereka, pasti pernah chatting via MSN. Suksesnya perusahaan chatting ini, orang-orang sampai membuat akun hotmail dan sebagainya hanya untuk chatting via MSN.

MSN itu mirip banget sama Yahoo Messenger (YM), hanya saja YM bertahan lebih lama. MSN Online Messenger resmi ditutup oleh perusahaan Microsoft pada 15 Maret 2013 karena kalah bersaing dengan sosmed lainnya. Sedih.

Oh Timberland, After All These Years


Malam ini gue ngetweet "It's disastrous! Thank god everything has been well swept. I am not happy for tonight's rain". Mungkin yang cuma baca dan nggak tau situasi gue saat ini bakal bingung. Maksudnya apa?

Jadi begini, malam ini hujan deras banget. Untungnya, atap rumah gue fine-fine aja, nggak bocor atau apa. Cuma, beberapa hari yang lalu, orang tua gue manggil tukang untuk memperbaiki saluran air dari keran yang ada didalam dan diluar rumah. Ternyata, nggak semua orang itu melakukan kerjaannya sampai tuntas. Maksud gue, kalau kerjaan mereka tuntas, nggak mungkin gue menulis celotehan ini.

Dari jam 19.00 sampai 21.00, kami, satu keluarga, membersihkan rumah akibat saluran air yang mampet dan air hujan yang tersebar kemana-mana. Malam ini, rumah gue banjir!

Nyokap udah mulai panik, dan dirumah cuma ada gue dan abang gue. Bokap dan abang gue yang satu lagi belum pulang. Untungnya, nggak lama kemudian, bokap pulang dan bareng-bareng kami mengusir semua air hujan yang masuk ke dalam rumah.

It wasn't hard for us, walaupun biasanya kami semua bakal panik, tapi nggak buat kali ini Nggak tau ada angin apa, tapi semuanya santai dan menikmati keadaan basah ini. Bulan puasa dan rumah banjir, how anymore worse could this be? Only god knows, so just let it be.

Tanpa berpikir dua kali kami semua bergegas menghilangkan air hujan. Ada yang masuk ke kamar abang gue, kamar gue, ke gudang dibelakang, dan sebagian lainnya masuk ke ruang tamu (celakanya membasahi stopkontak yang ada diruang tamu). Celakanya lagi, listrik tiba-tiba mati. Nyokap kemudian nanya ke abang gue, "dek, kamu matiin listriknya ya?", ternyata mati karena air hujannya udah berhasil merampas tenaga listrik dirumah.

Gue dapat bagian gudang yang ada dibelakang. Udah hampir dua jam, dan sampai detik ini nggak ada yang panik (ya paling cuma sekali-dua kali gue sedikit panik karena bokap masukin tangannya ke lobang air yang kotor dan memegang barang-barang dirumah tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu).

Entah kenapa, semuanya kami nikmati. Pas gue bersih-bersih gudang dibelakang, gue nemu artefak! Model sepatu boot (sepatu Timberland yang sering gue pakai sewaktu masih di Vienna) yang gue buat dari clay atau tanah liat. Wow, this is my history. Waktu kemudian berputar... Ingatan kembali pada waktu dimana gue masih kelas 5 SD di Vienna International School. Guru kelas Seni Rupa gue menyuruh kami semua untuk membuat sebuah profil dalam bentuk clay. Begitulah tugas kami, dan gue buat sepatu ini karena gue cinta sama musim salju (dan juga karena gue selalu memakai boots ini saat musim salju).

Pesan gue dalam cerita ini adalah, disaat keadaan itu buruk atau cenderung membuat orang-orang panik, don't be, just be cool. Nikmatin aja, karena semua bakal beres dengan lebih cepat kalau kita nikmatin, dalam hal apapun itu. Hasilnya, we could stumble upon many things unexpected. Dan itu sangat menarik.