Saturday, November 30, 2013

Terima Kasih Kandidat! Sukses untuk Arselma dan Ali

Candidates at the ICC Election watching Ali's presentation.

Memimpin International Class Community, atau yang akrab disebut ICC, merupakan sebuah pengalaman yang menginspirasi untuk kehidupan gue nantinya. Dan itu nggak cuma satu. Leadership contohnya, dengan diresmikan menjadi Presiden ICC tahun lalu membuat gue sadar kalau “gue harus ngelakuin sesuatu”. Meski dalam periode gue, gue nggak sanggup untuk menggelar acara yang banyak, proses dalam setiap persiapan acara itulah yang menurut gue penting.

Siang ini, baru aja kita – satu komunitas IC – kelar ngadain Pemilihan untuk Presiden ICC berikutnya. Gue bangga, cukup rame lah tadi, walaupun ada banyak yang nggak datang juga. Yasudahlah, kesempatan untuk memilih kan nggak cuma bisa dilihat dari satu sudut pandang doang. Hak untuk memilih bisa jadi bukanlah suatu kewajiban, dan sebaliknya. Tapi buat gue khususnya, kesempatan untuk memilih adalah kewajiban yang harus kita ikuti. Karena, sampai sekarang gue belum menemukan argumen yang bisa membela diri gue kalau golput itu lebih baik :)

Empat kandidat – yang duduk anteng di Study Hall tadi – menunjukkan pilihan yang cukup sulit buat dieksekusi. Mereka semua telah menghaturkan ratusan kata yang merepresentasikan 1) Visi dan Misi, 2) Motivasi, dan 3) Program Kerja mereka. Uh, terus terang, bagus-bagus ide mereka! Ada yang mau bikin Student Spotlight (atau magazines), ada yang mau bikin Science Olympiad, ada juga yang mau bikin Trip ke luar negeri, udah gitu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris para anggota ICC, ada yang berencana buat ngadain English Day. Hebat deh, kalian. Semua itu menunjukkan persiapan yang matang.

But yeah, sampai detik terakhir, ada yang harus menang, ada yang harus ditunda dulu kemenangannya (bukan berarti kalah) hehehe. It’s okay brother, menurut gue kemanangan itu bukan yang semestinya kita rayakan. You tried your best, that’s what you should celebrate :)

Novan, Edwin, Selma (President), Ali (Vice-president), 
Fachry, and Hielmy. Thank you candidates :)

Di bagian ini, gue ingin mengucapkan terima kasih banyak buat Direktur kita yang sudah meluangkan waktunya hadir di election ini. Juga buat Dr. Linda yang ramah hatinya, thank you for your speech and wanting to see the candidates’ presentations. It meant a lot to us. Terima kasih juga buat Chad dan Mas Ari yang cukup membuat gue terkejut hehe. Dan nggak lupa juga, terima kasih banyak buat Ketua KOMAHI kita, Awwab Hafidz AF, yang udah menyampaikan pendapatnya tentang KOMAHI dan ICC. Terima kasih semuanya.

Mudah-mudahan, penutupan acara tadi juga merupakan pembukaan sebuah chapter baru untuk ICC yang lebih maju. Sukses!

Friday, November 22, 2013

Bahagia Menjadi Miskin

Batu dari Gunung Merapi di Kaliputih sama Otong karo koncone :)

Setiap tahun buat kelas tiga, SMA gue selalu ngadain wisata ilmiah selama tiga hari dua malam yang namanya “Live In”. Setiap murid, berbarengan dengan beberapa guru terpilih, ditempatin di suatu pelosok daerah dan disuruh untuk mengabdi kepada masyarakat disana. Ketika gue masuk kelas tiga, kami semua berangkat ke sebuah desa (gue lupa namanya) di sekitar Purwokerto. Ini pengalaman kali pertama gue, tinggal di sebuah desa. Buat yang kedua kalinya, kebetulan juga belum lama ini, yaitu 17 hari yang lalu.

Posko KKN yang (katanya) tak berpenghuni selama 10 tahun. Hih!

Beda banget sama Live In! Di masa kuliah ini, gue baru aja selesai KKN. Selama satu bulan gue dibarengin sama mahasiswa-mahasiswa yang belum sempat gue kenal selama tiga tahun lebih kuliah di Jogja ini. *Kesannya gue introvert banget hahaha* Kami semua disarankan oleh kampus buat menginap di Dusun Polengan, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Endonesaaah! Serta diwajibkan menjalani program yang udah ditetapkan oleh kampus.

Program pokok yang udah dipastiin sama kampus itu bertemakan “Pemberdayaan Ketela”. Jadi, di Polengan ternyata ada suatu kelompok usaha yang bergerak di bidang olahan singkong yang didirikan oleh induk semang disana. Namanya ibu Tiwik. Usaha para ibu-ibu Polengan ini, bisa dibilang, penyumbang dana terbesar buat perkembangan desa ini.

Tempat produksi Sari Puspo (kelompok usaha olahan singkong).

Pada hari pertama, setelah berkenalan dengan aparat-aparat desa dan ngobrol sana-sini sama pemuda-pemuda disana, kami baru tau kalau dampak atau untung dari usaha singkong ini belum mencakup seluas satu Desa Polengan. Sampai detik itu kami akhirnya sadar kalau observasi yang dilakukan oleh kampus sebelum kami tiba di lokasi ini nggak maksimal. Maksud gue, kalau menurut kampus udah maksimal, mereka bakal tau kalau yang dibutuhin Desa Polengan itu bukan cuma hasil finansial dan pangan dari kelompok usaha singkong itu.

Mengecewakan. Kami terpaksa harus membangun program sendiri. Hampir masuk Minggu kedua kami masih saling berdiskusi buat menyiapkan dua program pokok. Berkat kekompakkan kami, kami semua sepakat buat mengembangkan desa ini melalui dua program, yaitu Desa Wisata dan Desa Ramah Anak. Desa Wisata contohnya seperti ngecat lambang dusun yang udah kelopak-kelopek warnanya, ngecat playground anak-anak TK, SD, dan SMP, dan membuat mini outbound. Selanjutnya, Desa Ramah Anak sifatnya penyuluhan. Kami berikan tiga tema, pertama itu berjudul “Pemilih Pemula”, kedua “Kekerasan dalam Rumah Tangga”, ketiga “Reproduksi”.

Salah satu program Desa Wisata: Ngecat lambang dusun Polengan!

Mini Outbound buat cah-cah ndusun Polengan.
(Btw, anak kecil yang pake kaos merah itu nakalnya minta ampun!)

Taman bermain di sebelah Masjid Al-Ikhlas.

Terlepas dari kekecewaan gue terhadap lembaga di kampus yang mengurus KKN, gue senang banget bisa dikasih kesempatan buat melaksanakan KKN di desa ini. Ironis ya, padahal awalnya gue ngerasa, “ah, satu bulan, lama banget”, ada juga teman gue yang bilang, “paling dua Minggu gue bisa bertahan di suasana kayak gini”.

Kalau KKN dalam bayangan lo itu malesin, karena nggak ada sinyal kencang, nggak ada mal, ndeso, udah gitu gelap lagi, jalan keluarnya cuma satu kalau menurut gue. Sedesa-desanya tempat itu, jelas kita bakal malas kalau kita nggak ada kemauan buat kenalan dan ngobrol-ngobrol sama masyarakat sekitar. Orang-orang desa itu beda sama orang kota, mereka saling menyapa dan menghargai satu dan lainnya. Legowo istilahnya.

Yang namanya uang, buat mereka, bukan segalanya. Kebahagiaan di desa ini, yang gue lihat, bukan karena uang semata. Di desa, mau nggak mau, kita harus menyesuaikan kehidupan kita dengan warga. Dan seringkali buat orang-orang kota, kehidupan di desa itu lebih "miskin", tapi perlu diketahui juga kalau makna kehidupan yang akan kita dapat dari desa itu.....tidak miskin. Kebahagiaan disini justru ada karena kesederhanaan, atau "kemiskinan".

Monday, November 18, 2013

Rayakan, Meski Hanyalah Kenangan

Ditengah kesibukan KKN, pasti akan selalu ada waktu - disaat matahari terbit -
untuk memblusuk ke sawah-sawah!

Ah, udah lama banget nggak posting di blog “bla bli blu”! Banyak hal seru yang terjadi di akhir tahun ini. Pertama-tama itu KKN, yang telah membuat gue tersadar lebih dalam terhadap makna suatu kehidupan yang sederhana. Pun setelah KKN itu gue sadar, kalau kebahagiaan atau keistimewaan itu nggak harus selalu datang dari kekayaan harta atau bentuk lainnya.

Keduanya, ditengah masa-masa skripsi dan menjadi ketua untuk komunitas program internasional Jurusan gue, gue masih sempat melonggarkan banyak waktu buat nongkrong bareng teman-teman dekat gue (termasuk yang satu ini yang ternyata menjadi “lebih” dekat, yang membuat hati gue berbunga-bunga hehehe).

Terkadang, melanggar aturan dengan tujuan yang baik
dan jelas, bukan suatu pelanggaran :)

Akhir tahun ini cukup menggembirakan. Senyum terasa lebih mudah buat gue ekspresikan ke orang lain.

Ketiga! Yang belum lama ini: 14 November. Tebak apa? Ini adalah hari yang baru aja menuakan gue, dan juga yang baru aja melengserkan gue dari bangku manis era keremajaan gue. Yap, betul, ulang tahun gue. Usia gue sekarang .................... ya masih termasuk dalam lingkaran generasi muda lah hehe.

Meskipun gue bukan orang yang menganggap kalau tanggal kelahiran itu penting, udah jadi etika dan tradisinya disini (juga di Negara-negara lainnya) kalau kita perlu membanggakan hari jadi kita di bumi ini. Nggak ada masalah lah menurut gue, gue pun bisa menerimanya dengan berani. Meskipun hari ulang tahun itu merupakan ingatan saat kita diperkenalkan pada kejahatan, kedamaian, pergaulan bebas, dan kesuksesan, baiknya adalah kita bisa mulai belajar dari semua itu. Kita dapat merasakan senang dan sedihnya ditengah kejadian-kejadian itu.

Tanggal 14 November malam itu, gue dikasih kejutan sama teman-teman dekat gue (bukannya pamer lho ya, hahaha). Sebelumnya, terima kasih banyak atas perayaan simple but meaningful ini. Kalian berhasil membuat gue mati gaya, salting, speechless *alaah*, dan yang ujungnya harus membuat gue menunjukkan tampang cute gue ke kalian semua. Terima kaseeeh! Hahaha. Terima kasih juga buat kue Tiramisunya, pemberian manis itulah yang membuat kue ini lezat disantap. Ngomong-ngomong, sempat abis nggak tuh kue? Dimakan Krisna semua ya? Ahaha!

Unyu banget sih ini hahaha. Terima kasih, sayang :) 

Gue nggak ngerti lagi... apa maksud gaya teman gue yang di tengah itu...

This has been a wonderful start to another new year! Satu hal lainnya yang mesti gue rayakan dalam tulisan ini adalah kemajuan dalam hidup gue. Gue ingin menghaturkan terima kasih, kepada siapapun itu yang telah mendorong gue sejauh ini. Especially, my family and close friends. Seringkali, belakangan ini, gue teringat akan masa lalu. Perubahan yang ada di diri gue dulu dan sekarang. Begitu cepatnya waktu berjalan, alhamdulillah gue masih bisa mencuri beberapa jam setiap harinya untuk memperbaiki diri gue.

Ketika SMA, gue terlalu akrab dengan dunia musik. Nulis lagu, ngejam, dan manggung. Gue lantas melupakan pentingnya sekolah. Tanpa disadari, nilai gue anjlok total hahaha. Tapi meskipun nilai gue hancur, gue nggak ikut-ikutan nyemplung dalam tradisi dan budaya jual-beli bocoran jawaban UAN. Itu yang harus gue banggakan. Kenapa? Karena gue sadar kalau gue harus bangkit segera mungkin buat membentuk sikap yang lebih maju buat masa perkuliahan nanti. Disini, menurut gue, gue cukup berhasil.

Kehidupan sebagai mahasiswa menciptakan suatu perbedaan yang signifikan dari masa SMA. Sampai sekarang ini, gue sukses meraih angka yang tinggi ditengah persaingan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Selebihnya, yang perlu banget gue rayakan, adalah karya sebuah media lepas yang gue bangun bareng teman-teman gue di Jogja. Okelah, banyak kegagalan yang telah kita lalui, serta lika-liku yang kerap membuat kita lelah, tapi ingat kawan, ini sungguh pengalaman dan pelajaran yang sangat istimewa. Suatu pengalaman yang luar biasa, yang terus mengasah otak kita, yang membuat kita paham akan arti perjuangan, kreativitas, dan solidaritas.

Berkat karya ini, gue lolos tes dan wawancara sebuah perusahaan asing yang presitigious, Wego Indonesia! Tanpa motivasi dan bantuan dari teman-teman buat mengembangkan media kita, gue rasa pencapaian ke Wego ini nggak akan datang menjumpai sejarah gue.

Tulisan ini akan selamanya menjadi kenangan. Meski hanyalah kenangan, ini patut gue rayakan. Karena dengan pasti, gue percaya, kalau perjalanan hidup gue masih jauh. Meskipun seterusnya akan seperti itu, 14 November 2013 dan ingatan akan masa lalu gue – jerih payah gue selama ini – adalah pengalaman dan pelajaran yang sangat luar biasa.

Monday, September 16, 2013

Ketika Hidup Ditemukan Dalam Sebuah Novel

Novel pertama dari ketiga novelnya Ahmad Fuadi membuat gue teringat pada masa-masa dilematis semester satu dan dua, ketika belum lama diresmikan menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Jogja.

Penulis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi, penyabet 8 beasiswa
ke luar negeri. (Foto: Tempo)

Pergaulan yang bertolak 180 derajat dari masa SMA saat itu membuat gue menganggap kuliah sebagai suatu paksaan. Beda banget lingkungannya, gue akui saat itu gue sama sekali belum terbiasa berbaur sama orang-orang yang berbeda budaya. Gue belum bisa berkomunikasi dengan orang yang berbeda logat tapi satu kebangsaan. Rasanya pengen banget gue melayang kembali ke masa-masa SMA.

Untungnya, gue jago memaksakan diri gue buat ngelakuin hal-hal yang nggak gue suka. Contohnya masuk kuliah meskipun gue nggak suka sama kampusnya. Mungkin ini ya perbedaan gue dengan orang lain. Pernah tiba waktunya dimana gue berpikir, mungkin kalau bukan gue yang terjerumus dalam lingkungan ini, mereka bakal bolos atau ujung-ujungnya pindah kampus. Ya maklum, gue pun sering dihantui pemikiran kayak gitu. Pindah, misalnya, sering kali muncul di otak gue ketika on the way berangkat dan pulang dari kampus.

Saat makan siang, gue juga sering mikir buat pindah, atau bolos. Cuma nggak pernah gue lakuin. Gue paksa terus sampai akhirnya, semester dua, gue nyerah sama situasi ini. Pun ketika ditanya teman gue, "kuliah dimana, Bing?", gue bingung harus jawab apa. Apa ini pertanda saatnya gue harus pindah?

Suatu siang, saat kelas pagi udah kelar, gue menelfon nyokap gue buat ngabarin kalau keputusan gue udah bulat. Pindah.

Anehnya, gue nggak lega sama keputusan ini. Gue justru bingung setelah gue tahu kalau kampus yang lagi gue incar nggak bisa menerima IPK dari kampus lain. Dalam artian, nggak ada aturan dimana kampus itu membolehkan transfer nilai antar kampus. Sejauh semester satu ini, nilai gue memuaskan, diatas rata-rata. Sayang kalau mesti mulai dari nol lagi.

Nyokap juga jelas-jelas nolak, dan nyaranin gue buat beli buku berjudul "Sang Pejuang, Sang Pecundang". Katanya, buku itu penuh ajaran-ajaran psikologis. Baiklah, siapa tau bisa menyembuhkan kegalauan gue. Gue kemudian bergegas ke Gramedia buat nyari buku itu. Sayangnya, nggak ada sama sekali. Yang menarik perhatian gue malah novel "Negeri 5 Menara", karya Ahmad Fuadi, yang gue lirik sedetik sebelum gue keluar. Seinget gue, ada temen gue yang pernah cerita penulis novel ini nyabet 8 beasiswa. Gilak, menarik juga, beli ah.

Sejak malam itulah gue baca novel karya sang perantau Minang yang telah berkeliling benua Amerika berkat penghargaan beasiswa ini. Novel ini mengisahkan realita kehidupan Ahmad Fuadi yang telah jenuh belajar di dalam sekolah berlandaskan ajaran Islam. Karena ibunya menolak permintaan dia buat menempuh pendidikan di sekolah negeri (yang bercampur agama), akhirnya dia lanjut sekolah di Pondok Pesantren Gontor -- Pondok Madani. Terpaksa namun berusaha melihat segi positifnya, di Gontor dia menemukan sebuah persahabatan yang terus memotivasinya untuk bertahan hingga lulus. Sahibul Menara, begitu ia menyebutnya. Disana pula dia diajarkan nilai-nilai Islam yang sampai sekarang terus diingat sebagai pondasi kehidupannya.

Inilah tiga ajaran Islam yang ia dapat dari Gontor:

1. Man jadda wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil (Negeri 5 Menara)
2. Man shabara zhafira: Siapa yang bersabar akan beruntung (Ranah 3 Warna)
3. Man saara ala darbi washala: Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan (Rantau 1 Muara).

Berkat Negeri 5 Menara, gue mulai berpikir bahwa pindah ke kampus lain bukanlah penyelesaian masalah, tetapi lari dari masalah. Ketika lingkungan menjadi masalah bagi kita, sesungguhnya bukan lingkungan tersebut yang menjadi masalah, akan tetapi diri kita sendiri apabila kita tidak mencoba mengubahnya menjadi lebih baik. Boleh dibilang kayak ustad, tapi kenyataannya, menurut gue, emang benar hehe. Contohnya, coba liat Soekarno, kalau aja dia ngundurin diri saat perang, Indonesia belum tentu merdeka. Kesimpulannya, jadilah tokoh yang dapat mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Wednesday, September 11, 2013

Copet Juga Pengen Punya Smartphone!

Sekarang ini, teknologi terus mengeluarkan versi terbarunya. Membuat segala sesuatu semakin mudah dan time-saving. Tapi rasa gengsipun semakin jadi. Maka banyak kalangan atas dan anak-anak muda elit jaman sekarang yang terus mengincar, misalnya, gadget terbaru. Perkembangan teknologi ini sayangnya nggak meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pekerjaan. Di Jakarta contohnya, hasilnya jadi nggak seimbang. Melainkan, menumpahkan jumlah copet yang lebih banyak.

Copet bisa aja berpenampilan lebih 'kaya' daripada lo, hihihi.
(Foto: Yupaz blogspot.)


Sewaktu liburan sebelum memasuki semester ke-7 ini, gue dengar cerita lucu dari abang gue, yang bikin gue terpikir ulang buat cari kerja di Jakarta.

Begini jalan ceritanya...

Suatu pagi di Sudirman, di hari pertama abang gue berangkat kerja, abang gue hampir dicopet di dalam bis kopaja menuju SCBD Karena cerita itu, gue berniat untuk berbagi tentang aturan-aturan yang sebaiknya diikuti oleh siapa aja saat menaiki kopaja atau bis antar kota lainnya.

Rule Number One: 

Jangan gampang percaya sama pakaian rapih, mahal, metroseksual, kantoran, atau semacamnya. Copet jaman sekarang udah cerdas. Kita banyak berprasangka orang yang berpenampilan rapih itu mapan, kecil banget kemungkinan sebagai copet. Nah, itulah salahnya. Justru itu yang para copet manfaatin. Berpakaian rapih selayaknya orang-orang mapan. Padahal, paling semuanya curian...

Rule Number Two: 

Sebisa mungkin jangan menyimpan barang-barang penting berupa telepon genggam pintar (smartphone), dompet, dan aksesoris lainnya, di dalam kantong. Sediakan tas, dan simpan disitu. Karena kantong sering banget jadi sasaran tangan para copet, khususnya di Jakarta.

Rule Number Three: 

Tunjukkin tampang sangar lo, haha! Kedengarannya emang aneh, tapi menurut gue, sekarang ini udah bukan jamannya pamer muka lucu, imut, polos, dan lainnya, ke orang-orang yang nggak dikenal. Ganteng, cantik, boleh laah, tapi bukan berarti lo harus siaga pasang tampang imut atau lucu biar dilirik. Jutek, sangar, gagah aja pokoknya. Safety’s first :)

Rule Number Four: 

Semasuknya lo ke dalam bis kota, jangan duduk di paling belakang. Biasanya, tempat duduk belakang adalah tempat “berkumpul”nya para copet biar gampang lompat keluar. Selain itu, belakang juga jarang dijadiin opsi pertama para penumpang.

Yang sempat dilihat abang gue waktu itu ada tiga copet. Satu berpakaian santai (kemeja kotak-kotak, jeans, dan sandal), satunya lagi seusia bapak-bapak dan mengenakan pakaian kantoran (kemeja polos, kantong kemeja diselipin pulpen, celana bahan, pantofel, dan membawa ransel), yang ketiga tampang dosen (kata abang gue sih gitu, gue bingung ngebayanginnya. Tampang intelek mungkin ya, hehe).

Kejadian dimulai saat abang gue duduk di paling belakang. Si kemeja santai ini duduk di sebelahnya. Selang beberapa detik muncul si orang kantoran. Berdiri disamping abang gue. Si ‘dosen’ berdiri di dekat supir, seakan-akan memantau keadaan di dalam dan luar bis. Satu per satu mulai melakukan rencananya, yaitu saat abang gue berdiri dan siap-siap keluar. Si kemeja santai mulai menarik-narik ujung bawah celana bahan abang gue. Abang gue otomatis nunduk, tanpa disadari memberikan posisi mudah bagi si orang kantoran buat masukin tangannya ke kantong abang gue. Celakanya, kurang beruntung dia! Ketika abang gue beralih ke pandangan si orang kantoran, tangannya masih nyangkut di kantong celana abang gue. Kalau kata abang gue, “mungkin karena ukuran kantong gue dan ukuran tangan dia nggak jodoh kali ya, jadi susah ngeluarinnya hahaha!”

Abang gue langsung teriak, persis di depan mata si orang kantoran, “woi! Ngapain lo!”. Sembari si orang kantoran memohon-mohon ampun, si kemeja santai tiba-tiba udah pindah duduk di bagian depan. Penumpang sekitar pada diam, inilah Jakarta. Gue-gue lo-lo. Ketika lo lagi susah, itu bukan urusan gue.

Selama pencopetan itu, si tampang dosen cuma memantau keadaan, seolah-olah nggak kenal sama kedua teman copetnya. Tapi karena mata dan gerak-geriknya, abang gue yakin mereka bertiga saling kenal. Mau dilapor ke polisi belum tentu mereka ditangkap, belum tentu polisi langsung datang. Pilihan abang waktu itu, keluar bis dan tetap berangkat ke kantor, daripada telat.

Begitulah cerita hari pertama abang gue kerja. Not a good impression, yea? Jadi hati-hati ya kalau pengen kerja ataupun sekedar jalan-jalan di Jakarta. Mending kamu mulai bangun usaha sendiri aja, selain meningkatkan ekonomi negeri, juga dapat mengurangi jumlah copet.

Monday, August 26, 2013

Desak-desakan di Kereta demi Magang di Wego Indonesia

Humming Bird Eatery, merayakan satu hari 
sebelum hari terakhir magang di Wego Indonesia

Once upon a time on an early Monday morning... 

Biasanya jam segini gue udah buru-buru cari pakaian yang pas, sarapan, nyiapin barang-barang yang perlu gue bawa, dan lari ke stasiun kereta api Serpong biar nggak ketinggalan kereta yang berangkat jam 08.17 menuju Tanah Abang. Sayangnya, nggak ada gunanya lagi gue terjun dalam rutinitas itu. Nggak perlu lagi gue desak-desakan dalam kereta bareng penduduk Jakarta yang juga ngejar jam kantor.

Ha?! Bukannya bagus? Not purely sih, kadang hal yang buruk itu bisa jadi suatu hal yang lo kangenin, hehe. Sejak Agustus lalu, gue magang di Wego Indonesia selama satu bulan, meskipun harus ikut-ikutan terperangkap dalam kehidupan mencari uang orang-orang di Jakarta, gue menikmati magang di sana. Wego telah memberi pelajaran yang selama ini gue nanti: menjadi penulis.

Meskipun di hari pertama udah berhasil ngecewain editor gue (uhuk-uhuk...Ka Clara...uhuk-uhuk) karena hasil liputan yang kurang lengkap sehingga harus balik ke tempat liputan sebanyak tiga kali, gue menikmati siksaan itu, hehe.

Meskipun diberi tugas menuliskan 20 artikel perjalanan yang ujung-ujungnya mencuri waktu tidur gue karena gue selalu kesulitan nulis di kantor, nikmat melaksanakan perintah itu.

Meskipun harus jalan kaki dari Reading Room, Kemang, ke Aksara bookstore--which, in fact, is something that no Indonesians would do! Hahaha--karena nggak dapat taksi, cuma buat meliput kegiatan Art & Craft di sana, gue menikmati ketololan itu. Semua, dari yang susah-payah sampai yang mudah, gue menikmati magang di Wego.

Satu bulan kerja di Wego bukan sebatas kerja. Bukan sebatas mengejar deadline dari waktu ke waktu. Bukan pula sebatas mempercantik CV gue. Dalam satu bulan ini, gue kenalan sama orang-orang menarik, yang juga ahli dalam dunia jurnalistik, internet programming, desain, keunganan, sosial media, dan lainnya. Orang-orang luar biasa yang berlagak biasa. Orang-orang hebat yang bersifat konyol. Orang-orang jutek yang, aslinya, penyayang.

At last, sobat interns gue, Ellen, Renata, dan Wahyu, ayoo buruan kelarin tugas terakhir lo! Sebelum dikejar tante-tante TED Wego (alias Sica, Clara, Sara), hehehe. Nggak kerasa ya, udah tamat aja nih program magang. Tetap stay in touch ya, jangan lupa buat re-unite (saran gue sambil liburan di Indonesia timur, dibayarin sama Ellen atau nggak Wahyu, pasti udah kerja dan sanggup neraktir kan tuh berdua, hehe). For the best and the worst, this one month internship has been one hell of a ride!

See ya in the other side! Best of luck, everybody. Peace.

Monday, August 5, 2013

Bayangin, Gue Bolak-balik 3x ke Monas!

Akhirnya, gue dapet kesempatan buat difoto di depan front office Wego!
Maklum, suka pamer, hehe.

Liburan tahun ini mengukir sejarah baru dalam hidup gue. Hari ini udah masuk Minggu ketiga gue magang di Travel Editor's Desk (Wego Indonesia). Ini merupakan kali pertama gue bergelut dalam media yang secara resmi di akui pemerintah. Terus terang beda banget sama media yang gue kelola: Ournalism.com.

Di TED Wego, gue menggali banyak informasi tentang pengembangan media. Di antaranya, cara menulis berita yang menarik, SEO (Search Engine Operation) sebuah sistem pencarian berita yang membuat berita itu gampang di cari lewat Google, dan langkah-langkah pra-publishing.

Karena TED Wego berbasis online, maka setiap orang di sana di tuntut untuk mengerti tentang internet programming.

Tugas pertama gue adalah memastikan sebuah topik berita yang ada kaitannya dengan Ramadan. Gue pilih Monas sebagai tempat liputan pertama gue. Kenapa jadi museum? Kebetulan bulan puasa ini, lagi heboh suasananya karena lagi ada bazaar murah dan permainan anak-anak. Orang-orang, termasuk para turis, banyak yang datang buat menikmati ajang tersebut dan beberapa lainnya ya itung-itung sekalian menunggu waktu buka puasa.

Dalam liputan ini, gue mengulas seluruh kegiatan yang bisa di lakukan di Monas selama Ramadan. Termasuk memandang kota Jakarta dari puncak monumen.

Jakarta (dalam teknik panorama) dari ketinggian 139m.

But it wasn't that simple! Cuma buat melengkapi berita ini, gue perlu bolak-balik tiga kali dari rumah gue di Tangsel sampai Monas. Bayangin Jakarta aja udah malas.

Senin
Kesalahan pertama, gue baru ingat kalau semua museum di Jakarta itu tutup hari Senin. Buat meliput bazaarnya juga nggak pas waktunya. Cuacanya barusan hujan dan setiap pedagang di sana baru siap-siap buka lapak. Otomatis nggak good-timing juga buat foto-foto.

Yaudah, mau gimana lagi? Gue langsung balik ke kantor dengan wajah kecewa. Jadi malu juga ya, hari pertama ini gue udah berhasil mengecewakan editor gue.

Selasa
Tiba di Monas pukul 17.00. Duh, apes lagi kan gue! Ternyata Monas tutup jam 3 sore. Baiklah, untung bazaarnya udah ramai.

Rabu
Hari ini lagi-lagi gue kurang beruntung. Tapi kali ini apesnya bukan tentang Monas. Beberapa menit sebelum sampai Monas, gue sempat di marahin sama tentara di Istana Negara karena jalan kaki di atas trotoar yang khusus di buat untuk Presiden dan anak-anak buahnya. First time in my life, gue di sodorin senjata pistol!

Pukul 13.30 gue udah sampai Monas. Yay! Akhirnya liputan berita gue selesai juga. Esok harinya gue berangkat ke kantor dan jadilah berita pertama gue untuk TED Wego: "Ngabuburit di Jantung Kota Jakarta"! Selamat membaca!